spot_imgspot_img
Minggu 27 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Saung Leuit Munjul Pangandaran, Ruang Lama yang Dihidupkan untuk Edukasi Budaya

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Bangunan berarsitektur tradisional Sunda beserta aneka benda peninggalan tempo dulu kembali memancarkan pesonanya di Saung Leuit Munjul, Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (27/9/2026). Dede R. Saefudin mengelola kawasan ini bukan sekadar sebagai tempat penampungan barang antik, melainkan juga wadah kreativitas dan edukasi budaya lintas generasi.

Salah satu aksi nyata pemanfaatan lokasi ini terlihat saat Komunitas Barudak Ulin menggelar kegiatan bertajuk ‘Ulin Bareng: Ngubaran Katineung’. Berbagai komunitas lokal memanfaatkan area ini untuk melangsungkan agenda seni, edukasi, hingga pelestarian tradisi.

Baca Juga: Komunitas di Pangandaran Bergerak Lawan Ketergantungan Gadget, Ramai-ramai Bermain Permainan Tradisional

Dede mengungkapkan alasan utama di balik keputusannya merancang kawasan bernuansa masa lalu tersebut. Rasa cinta mendalam terhadap peninggalan orang tua mendorongnya untuk menghidupkan kembali arsitektur Sunda yang kian tergerus zaman.

“Saya memiliki ketertarikan kuat dalam mengaplikasikan bangunan khas Sunda yang saat ini sudah sangat jarang masyarakat gunakan,” ungkap Dede saat memberikan keterangan di lokasi.

Bangunan Julang Ngapak Tanpa Material Baru

Keunikan Saung Leuit Munjul terletak pada proses pembuatannya yang mengusung prinsip daur ulang penuh. Dede memanfaatkan kembali material-material lama, saung bekas lumbung padi (leuit), peralatan pertanian kuno, hingga berbagai perabotan rumah tangga baheula.

Ia bahkan menegaskan tidak membeli bahan bangunan baru untuk mendirikan Saung Leuit Munjul. Seluruh struktur yang berdiri merupakan hasil renovasi serta penataan ulang bahan-bahan lama yang ia kumpulkan.

Salah satu ikon utama di kawasan ini tampil menawan lewat struktur atap Julang Ngapak, gaya arsitektur khas Sunda yang legendaris. Dede tidak asal meniru tampilan fisik luar, tetapi juga menyematkan filosofi dan makna mendalam pada setiap sudut bangunan.

“Kami sama sekali tidak membeli material baru. Semua ini hasil rehabilitasi bahan-bahan lama,” jelasnya.

Ajak Pengunjung Belajar Memasak Khas Sunda Pakai Hawu dan Seeng

Guna melengkapi pengalaman edukasi, Dede mematangkan rencana untuk menghadirkan dapur tradisional Sunda yang mengandalkan tungku kayu bakar (hawu). Fasilitas ini bakal mengenalkan tata cara memasak zaman dulu menggunakan peralatan otentik seperti seeng dan aseupan.

Melalui fasilitas tersebut, para pengunjung dapat berinteraksi langsung dan merasakan ritme kehidupan masyarakat Sunda era lampau secara utuh. Pengunjung tak cuma menonton fisik bangunan, tetapi juga mempraktikkan penggunaan alat-alat sejarah tersebut.

“Kami ingin pengunjung tak sekadar melihat wujud bangunannya, tetapi mengerti cara masyarakat masa lalu memanfaatkan peralatan tersebut,” tutur Dede.

Ruang Publik Alternatif untuk Generasi Muda dan Komunitas

Saung Leuit Munjul kini membuka pintu selebar-lebarnya bagi ragam kegiatan komunitas kreatif, mulai dari seni kerajinan tangan, kelas menggambar, hingga wahana permainan anak-anak. Konsep ini terbukti ampuh menjembatani generasi muda untuk mengenal akar budaya warisan leluhur mereka.

Sinergi Saung Leuit Munjul bersama Komunitas Barudak Ulin menjadi langkah konkret untuk mengenalkan kaulinan lembur seperti gobak sodor, pecle, dan oray-orayan. Lewat rangkaian kegiatan ini, kawasan Saung Leuit Munjul bertransformasi menjadi ruang alternatif yang sangat ideal untuk menjaga kelestarian budaya Sunda di Kabupaten Pangandaran.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru