PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Tim WBTb Kementerian Kebudayaan RI menetapkan seni pertunjukan Benjang Batok dan kuliner Pindang Gunung sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia 2026, Jumat (4/9/2026). Dua karya asal Kabupaten Pangandaran ini berhasil mengantongi pengakuan resmi tingkat nasional.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran Dadan Sugistha mengawal langsung proses persidangan secara daring. Maestro Benjang Batok Mang Koko dan maestro Pindang Gunung Encuk Sutarsih turut menghadiri sidang penetapan tersebut.
Baca Juga: Pangandaran Jadi Nomor Satu se-Jawa Barat, Kepatuhan Bayar Pajak Kendaraan Tembus 67 Persen
“Pengusulan Benjang Batok dan Pindang Gunung menjadi WBTb Indonesia merupakan salah satu upaya pemerintah untuk melindungi dan melestarikan warisan budaya Kabupaten Pangandaran,” kata Dadan, Jumat (25/9/2026).
Sejarah Benjang Batok Sebagai Seni Pertunjukan Pemikat Turis
Kesenian Benjang Batok berasal dari Dusun Karangpaci, Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. Para perempuan memainkan alat musik dari batok kelapa tua sambil menari mengikuti irama.
“Batok kelapa yang sudah tua terbentuk menyerupai mangkok. Batok kemudian memukulkannya secara berirama sambil beriring gerakan tubuh para penari,” ujar Dadan.
Maestro Benjang Batok Mang Koko membeberkan kisah sejarah kesenian ini. Warga lokal menciptakan seni Benjang Batok pada masa penjajahan Jepang untuk mengelabui pasukan musuh.
Para wanita menggelar pertunjukan di halaman, sementara para pria bersembunyi dari romusha. Kini, warga Pangandaran memoles kesenian ini menjadi daya tarik wisata budaya yang memikat wisatawan.
Pindang Gunung Sajikan Cita Rasa Otentik Khas Pangandaran
Selain Benjang Batok, Pindang Gunung meraih predikat WBTb Indonesia 2026. Kuliner khas Pangandaran ini menyajikan olahan sup ikan laut dengan kuah kuning bercita rasa asam pedas.
Koki mengolah ikan segar seperti kerapu, tongkol, dan kakap dengan racikan rempah khusus. Penggunaan kecombrang dan daun kedondong memberi aroma harum serta rasa segar yang khas.
Maestro Pindang Gunung Encuk Sutarsih mengaku mempelajari resep otentik ini dari sang ibu sejak tahun 1975.
“Artinya, tradisi kuliner Pindang Gunung telah diwariskan setidaknya selama lebih dari 50 tahun,” kata Encuk.
Budayawan Edi Rusmiyadi menambahkan bahwa warga Pangandaran sudah menikmati Pindang Gunung sejak tahun 1940-an.
“Pindang Gunung umumnya tersaji hangat bersama nasi putih, sambal, lalapan dan teh hangat,” kata Edi.
Penetapan dua warisan budaya ini memperkuat posisi Pangandaran sebagai destinasi wisata alam dan budaya di Jawa Barat.
(Sajidin)



