spot_imgspot_img
Rabu 2 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Petani Pangandaran Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Melon

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Lahan yang sebelumnya hanya mampu menghasilkan tanaman sekali dalam setahun kini disulap menjadi lahan produktif dengan budidaya melon. 

‎Pemanfaatan lahan tersebut dilakukan saat musim kemarau di Dusun Sindangsari, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran Jawa Barat.

‎Salah seorang petani budidaya melon, Iwan, mengatakan lahan tersebut sebelumnya kurang produktif karena kondisi tanah yang mudah kering. 

Baca Juga: Anggaran Jembatan Pongpet Pangandaran Masih Misteri

‎Kondisi ini justru dimanfaatkan untuk menanam melon yang dinilai cocok dengan karakteristik lahan dan cuaca saat musim kemarau.

‎”Ini lahan yang hanya setahun sekali produktifnya. Karena di sekitar sini enggak ada tanaman yang berhasil, jadi kering. Kita manfaatkan, kasih mulsa, kita olah supaya bisa ditanami untuk musim kering,” kata Iwan di temui di kebun melon Rabu, (2/8/2026).

Tingkat Manis Yang Baik

‎Menurutnya, tanaman melon justru membutuhkan kondisi cuaca panas untuk menghasilkan buah dengan tingkat kemanisan yang baik. 

‎Untuk memenuhi kebutuhan air, pengelola membuat sumur dan menggunakan sistem irigasi tetes atau drip irrigation.

‎”Sangat cocok. Kepenginnya panas, jadi kadar kemanisannya juga dapat. Untuk air kita bikin sumur. Saat ini kita pakai sistem drip, jadi lebih hemat air, tenaga, dan waktu dibandingkan manual pakai kocoran,” ujarnya.

‎Di lahan seluas sekitar 80 bata atau kurang lebih 1.200 meter persegi, terdapat sekitar 1.500 tanaman melon. Beberapa varietas dikembangkan, di antaranya melon jenis Amanda, melon berdaging oranye, serta Honey Globe yang sebelumnya lebih umum dibudidayakan di dalam green house (GH).

‎Khusus Honey Globe, Iwan menyebut budidaya di lahan terbuka tersebut masih menjadi percobaan. Hasilnya, tanaman tersebut ternyata mampu tumbuh dan menghasilkan buah meski dibudidayakan di open field.

Melon Jenis Amanda

‎”Ini Honey Globe. Ini sebenarnya kelas green house, tapi kita coba dibudidayakan di lahan terbuka atau open field. Ternyata jadi,” katanya.

‎Tanaman melon tersebut kini mulai memasuki masa panen. Melon jenis Amanda misalnya, sudah berusia sekitar 62 hari setelah tanam (HST) dan dinilai sudah layak dipanen. Sebagian buah sengaja dibiarkan matang di pohon untuk menjaga kualitas dan daya simpannya.

‎Dari hasil budidaya, satu tanaman menghasilkan rata-rata sekitar 1,5 kilogram melon, meski ada tanaman yang mampu menghasilkan dua buah dengan bobot lebih besar.

‎Untuk harga, melon di tingkat pengecer saat ini berada di kisaran Rp20 ribu per kilogram. Namun, pengelola memilih membuka kebun untuk masyarakat sekitar dengan konsep wisata petik melon.

‎”Harapannya masyarakat bisa langsung petik di kebun dengan harga yang relatif agak murah. Kita bukan merusak harga, tapi perkenalan,” ucap Iwan.

‎Harga khusus bagi pengunjung yang datang langsung ke kebun dipatok sekitar Rp15 ribu per kilogram. Wisata petik melon tersebut rencananya dibuka selama sekitar satu hingga 10 hari selama masa panen.

Prospek Ekonomi Menjanjikan

‎Iwan menilai budidaya melon memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan dibandingkan tanaman padi jika dilihat dari waktu produksinya.

‎”Kalau dari perhitungan, mungkin kalau di jarak waktu kita menang di melon,” katanya.

‎Ke depan, ia berencana mengembangkan budidaya melon dengan memperluas lahan dan membangun green house.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Ambil Alih Jembatan Pongpet Pangandaran, Ini Janjinya

‎”Rencana ada. Kepenginnya begitu, ke depannya pengin punya GH,” ujarnya.

‎Budidaya melon tersebut menjadi salah satu upaya memanfaatkan lahan yang sebelumnya kurang produktif, khususnya saat musim kemarau. 

‎Dengan teknologi irigasi tetes dan pemilihan komoditas yang sesuai, lahan yang mudah kering justru dapat menghasilkan tanaman hortikultura bernilai ekonomi.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru