BANDUNG, FOKUSJabar.id: Kondisi burung Ekek Keling Sunda atau Ekek Geling Jawa (Cissa thalassina) di Jawa Barat (Jabar) tengah menjadi perhatian karena populasinya di sebut semakin terbatas.
Burung yang merupakan satwa endemik Jawa Barat tersebut masuk kategori Kritis atau Critically Endangered dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN).
BACA JUGA:
4 Manfaat Rebusan Daun Sirih untuk Burung Murai Batu
Perkiraan jumlah individunya di alam liar juga menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Data yang di sampaikan dalam perkembangan terbaru pada Sabtu, 29 Agustus 2026 menyebut, populasi Ekek Keling Sunda di perkirakan hanya berkisar 25 hingga 250 ekor.
Sebelumnya, WALHI Jawa Barat memperkirakan jumlah yang tersisa berada pada kisaran 50 hingga 250 ekor.
Situasi tersebut membuat upaya penyelamatan burung endemik ini mulai di dorong masuk ke ranah kebijakan.
Anggota DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanady menyatakan akan membawa persoalan konservasi Ekek Keling Sunda ke forum legislatif.
Ia menilai, di perlukan political will yang kuat agar perlindungan satwa tersebut dapat di lakukan secara lebih serius.
“Tentu saja ini banyak pihak dari lingkungan mungkin Dinas Lingkungan Hidup dan ada juga bersinggungan dengan Komisi 2 yang membidangi konservasi. Saya akan coba suarakan ini di forum, nah tinggal nanti political will-nya yang di butuhkan cukup besar itu seperti apa,” kata Daddy di kutip antara.
Menurut Daddy, penyelamatan Ekek Keling Sunda tidak dapat di lakukan hanya oleh satu lembaga. Pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota yang masih memiliki kawasan yang sesuai bagi habitat burung tersebut di nilai perlu di libatkan. Termasuk dalam kemungkinan pengembangan habitat baru.
“Beberapa daerah kabupaten saya kira masih berpotensi sebagai habitat mereka untuk kemudian mari kita coba,” ucapnya.
Ekek Keling Sunda di ketahui menghuni kawasan hutan dataran tinggi. Terutama hutan montane dan submontane dengan ketinggian sekitar 500 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut.
Sejumlah wilayah seperti Gunung Halimun, Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango pernah menjadi lokasi keberadaan burung tersebut.
Namun, keberadaan spesies itu kini semakin sulit di temukan. WALHI Jawa Barat menyebut Ekek Keling Sunda masih terpantau di beberapa kawasan. Termasuk Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango.
Terbatasnya jumlah individu membuat proses pengamatan dan interaksi di habitat alaminya menjadi semakin sulit.
“Kalau di Jawa Barat itu terpantau masih ada beberapa. Cuma sulit kalau kita menjelajah atau observasi, misalnya di Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Masih terkadang kita bisa melihat, cuma karena jumlahnya terbatas maka interaksinya susah,” ujar Manajer Divisi Pendidikan WALHI Jabar M. Jefry Rohman.
Tekanan terhadap populasi Ekek Keling Sunda berasal dari sejumlah faktor. Kerusakan dan kehilangan habitat menjadi salah satu ancaman utama karena berkurangnya kawasan hutan dapat mengganggu ruang hidup satwa tersebut.
Selain itu, perburuan untuk perdagangan burung juga menjadi persoalan. Termasuk penangkapan Ekek Keling Sunda untuk di jadikan burung master dalam melatih suara burung kicau.
BACA JUGA:
Peringati Hari Bhayangkara ke-79, Polres Pangandaran Gelar Lomba Burung Merpati
Kondisi di lapangan membuat perlindungan habitat menjadi bagian penting dari upaya konservasi. Berdasarkan perkiraan WALHI Jawa Barat, jumlah Ekek Keling Sunda yang masih bertahan di sejumlah kawasan hutan Jabar berada pada kisaran 50 hingga 250 ekor.
Sementara itu, pemberitaan terbaru menyebut estimasi yang lebih rendah, yakni 25 hingga 250 ekor. Perbedaan angka tersebut menunjukkan masih adanya keterbatasan dalam pendataan populasi secara pasti.
Di tengah ancaman kepunahan, sejumlah upaya konservasi telah berjalan. Taman Safari Indonesia di sebut melakukan penangkaran Ekek Keling Sunda dan menyiapkan rencana pelepasliaran empat ekor koleksinya.
Upaya tersebut mendapat apresiasi dari DPRD Jawa Barat karena di nilai menunjukkan adanya pihak yang telah mengambil langkah nyata untuk menjaga keberadaan spesies tersebut.
Sebelumnya, pendiri Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau juga menyoroti kondisi Ekek Keling Sunda yang di nilai semakin memprihatinkan.
Burung tersebut di sebut nyaris punah di kawasan Gunung Pangrango karena sudah tidak lagi di temukan.
Perburuan untuk kepentingan perdagangan burung kicau menjadi salah satu faktor yang di sebut memperburuk kondisi populasinya.
Selain penangkaran dan pelepasliaran, keberhasilan konservasi juga membutuhkan pemantauan populasi serta pengelolaan habitat secara berkelanjutan.
Penelitian mengenai karakteristik habitat Ekek Geling Jawa di Resort Cikaniki, Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang tersedia dalam repositori Universitas Tanjungpura pada 2026, turut mencatat keberadaan spesies tersebut di sejumlah titik kawasan hutan dan menekankan pentingnya upaya pelestarian.
Daddy sebelumnya menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi burung tersebut.
“Yang pertama, secara pribadi saya prihatin dengan kondisi ini. Karena Ekek Keling Sunda itu kan salah satu hewan yang merupakan entitas khusus Jawa Barat. Ini adalah pekerjaan rumah kita semua,” kata Daddy.
Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, penyelamatan Ekek Keling Sunda masih membutuhkan penguatan dari berbagai pihak.
DPRD Jawa Barat berencana membawa persoalan tersebut ke forum legislatif. Sementara pemerintah daerah yang memiliki kawasan habitat atau wilayah yang berpotensi menjadi habitat baru di harapkan ikut mengambil langkah.
Ancaman terhadap burung endemik tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah populasinya yang terbatas. Tetapi juga dengan tekanan terhadap habitat dan perburuan.
Karena itu, dorongan political will yang di sampaikan DPRD Jabar menjadi bagian dari upaya agar persoalan konservasi Ekek Keling Sunda dapat diterjemahkan ke dalam langkah perlindungan yang lebih konkret.
Dengan melibatkan pemerintah, lembaga konservasi, masyarakat, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, upaya menjaga Ekek Keling Sunda di harapkan dapat di lakukan secara berkelanjutan.
Perlindungan habitat, pengendalian perburuan, pemantauan populasi, penangkaran dan pelepasliaran menjadi sejumlah langkah yang dapat berjalan beriringan untuk mencegah satwa endemik Jawa Barat tersebut semakin dekat dengan kepunahan.
(Jingga Sonjaya)



