spot_imgspot_img
Minggu 30 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Perjuangan 16 Anak SDN Budiharja KBB Naik Rakit saat Sekolah

KBB, FOKUSJabar.id: Pemandangan anak-anak berseragam sekolah menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu terjadi setiap hari di Kampung Sadang Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

Bagi 16 siswa SD Negeri Budiharja, rakit menjadi sarana yang mereka andalkan untuk pergi dan kembali dari sekolah.

BACA JUGA:

Dedi Mulyadi dan Raffi Ahmad Bahas Pemulihan Bencana Bandung Barat

Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah aktivitas para siswa menyeberangi waduk menggunakan rakit ramai di perbincangkan.

Talk adanya jembatan penghubung membuat jalur air tetap menjadi pilihan paling praktis bagi anak-anak yang tinggal di Kampung Sadang.

Para siswa biasanya mulai berangkat sekitar pukul 06.00 WIB. Dari permukiman, mereka menuju tepian waduk sebelum menaiki rakit bambu yang di kendalikan warga menggunakan tali.

Dengan cara tersebut, perjalanan menuju sekolah di Kampung Gombong, Desa Budiharja dapat di tempuh sekitar lima hingga 10 menit.

Kepala SD Negeri Budiharja, Taufik menyebut, akses darat dari Kampung Sadang menuju sekolah hampir mencapai empat kilometer.

Anak-anak harus berjalan kaki sekitar 30 menit jika tidak menggunakan jalur penyeberangan melalui Waduk Saguling.

Dari 16 siswa yang masih menggunakan rakit, tiga merupakan siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.

Sejumlah warga ikut membantu memastikan anak-anak dapat menyeberang.

Ketua RT 05, Agus Sumpena merupakan salah satu warga yang turut mengemudikan rakit. Menurutnya, jumlah siswa yang menggunakan sarana tersebut saat ini sebenarnya sudah berkurang di bandingkan masa sebelumnya.

“Saya dan beberapa orang di sini, setiap hari mulai dari pagi dan siang hari mengantarkan anak-anak sekolah naik rakit. Saat ini, yang naik rakit ada 16 anak,” kata Agus Sumpena.

Kekhawatiran tetap di rasakan orang tua karena penyeberangan berlangsung di atas waduk.

Santi Nur Setiani, warga Kampung Sadang mengatakan, anaknya yang duduk di kelas 3 juga menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah.

Ia mengaku khawatir anak-anak terjatuh. Terutama ketika mereka bercanda atau bermain selama berada di atas rakit.

“Takutnya terpleset. Kalau musim hujan, dia suka main-main, bercanda sama teman-temannya kalau naik rakit,” kata Santi.

BACA JUGA:

Dukung Pemulihan Pascabencana, LG Electronics Salurkan Bantuan ‘Lebaran Sehat’ di Bandung Barat

Kondisi ini sebenarnya telah berlangsung selama puluhan tahun. Agus mengatakan, penyeberangan anak sekolah menggunakan rakit sudah di lakukan sejak sekitar 1990.

Pada awalnya, orang tua mengantar anak mereka secara masing-masing, sebelum kemudian sekolah menyediakan rakit yang di gunakan bersama untuk membantu siswa menyeberangi waduk.

Rakit yang di gunakan tidak dapat bertahan selamanya. Karena menggunakan bambu. Sarana tersebut harus di ganti secara berkala. Biasanya sekitar dua hingga tiga tahun sekali.

Warga melakukan pengadaan dan pembuatan rakit secara swadaya dengan membeli bambu kemudian merakitnya kembali. Selama di gunakan, sedikitnya enam kali rakit telah mengalami pergantian.

Bagi masyarakat Kampung Sadang, keberadaan rakit juga memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mengantar anak sekolah.

Warga memanfaatkannya untuk menuju kebun, membawa barang serta melakukan aktivitas ekonomi di wilayah seberang waduk.

Karena itu, pembangunan jembatan di nilai dapat membantu kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.

“Ya harapannya, pemerintah atau pihak swasta bisa membuat jembatan, minimal jembatan apung. Jadi anak-anak kami enggak harus naik rakit lagi, warga juga bisa lebih leluasa aktivitasnya,” kata Agus.

Sekolah juga berharap, persoalan akses tersebut dapat memperoleh solusi permanen. Selain memperpendek perjalanan, jembatan di nilai dapat memberikan jalur penyeberangan yang lebih mudah bagi siswa maupun warga yang selama ini mengandalkan rakit.

“Iya, dari dulu. Dari mulai ada Saguling, karena anak-anaknya banyak yang sekolah ke sini maka di buat rakit oleh sekolah. Biayanya juga dari sekolah, bahkan sempat ada pelampungnya tapi sudah rusak. Jadi sekarang alakadarnya,” kata Taufik.

Para siswa sendiri telah terbiasa dengan perjalanan tersebut. Salah seorang siswa, Imam, mengaku sudah tidak merasa takut meski harus menggunakan rakit untuk mencapai sekolah setiap hari.

“Sudah biasa, kalau saya berangkatnya pagi-pagi, jam 6. Di antar rakit terus nanti pulangnya juga naik rakit lagi. Enggak takut, sudah biasa,” kata Imam.

Perhatian terhadap kondisi tersebut meningkat setelah video perjalanan siswa menggunakan rakit beredar dan mendapat perhatian publik.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemudian merespons dengan mengutus tim dari Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) untuk melihat langsung kondisi akses di wilayah Cililin.

Pengecekan lapangan tersebut menjadi perkembangan terbaru pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Pemerintah di harapkan dapat menilai kebutuhan pembangunan jembatan berdasarkan kondisi geografis serta kebutuhan warga yang tidak hanya menggunakan akses tersebut untuk sekolah, tetapi juga untuk aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA:

Pemkot Bandung Turunkan Bantuan Tanggap Bencana ke Bandung Barat

Bagi 16 siswa SD Negeri Budiharja, rakit masih menjadi bagian dari rutinitas mereka setiap hari.

Selama belum tersedia jembatan atau akses penghubung lain, mereka tetap harus menyeberangi Waduk Saguling untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Warga pun berharap, kondisi yang telah berlangsung sejak sekitar tiga dekade tersebut dapat segera mendapatkan solusi yang lebih aman dan berkelanjutan.

(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)

spot_img

Berita Terbaru