DEPOK, FOKUSJabar.id: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Kota Depok Jawa Barat (Jabar) kini menghadapi persoalan kelebihan kapasitas atau overload setelah beroperasi selama 12 tahun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Depok karena volume sampah yang terus bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk.
BACA JUGA:
Job Fair Kota Depok 2026 Resmi Digelar Awal Agustus, Ada Walk In Interview
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok pun menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi keterbatasan daya tampung TPA Cipayung.
Upaya tersebut mencakup penanganan sampah dari sisi hulu hingga pengelolaan di bagian hilir.
Salah satu rencana yang di siapkan adalah pembangunan Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di area TPA Cipayung.
Fasilitas ini nantinya di tujukan untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif berbentuk RDF. Termasuk memanfaatkan timbunan sampah yang sudah berada di kawasan TPA.
Kepala DLHK Kota Depok, Reni Siti Nuraeni menjelaskan, TPA Cipayung telah mulai di gunakan sejak 2014.
Selama lebih dari satu dekade, kondisi TPA semakin terbebani akibat pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan timbunan sampah yang harus di tangani setiap harinya.
“Sekarang ini kondisi TPA Cipayung sudah di anggap overload. Dengan jumlah penduduk Depok sekitar 2,2 juta jiwa, timbunan sampah yang di hasilkan mencapai sekitar 1.279 ton per hari,” ungkapnya di kutip depok.go.id.
Menurut Reni, kondisi tersebut tidak dapat di tangani hanya dengan mengandalkan satu langkah. Penanganan perlu di lakukan secara bertahap dengan strategi yang mencakup pengelolaan sampah sejak dari sumbernya hingga proses pengolahan di lokasi pembuangan akhir.
Karena itu, DLHK Kota Depok telah menyiapkan beberapa strategi untuk mengurangi tekanan terhadap TPA Cipayung. Salah satu fokus utama berada di sisi hilir melalui pembangunan fasilitas RDF Plant yang di rencanakan berada di kawasan TPA tersebut.
BACA JUGA:
Lewat Program NYABA, Bunda PAUD Kota Depok Cing Ikah Sambangi RA Daarul Fikri Beji!
Fasilitas RDF Plant nantinya memiliki kemampuan untuk mengolah sampah dalam jumlah besar. Sampah yang masuk akan di proses sehingga dapat menghasilkan RDF yang dapat di manfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
“Strategi kita ke depan, di hilir kita akan membuat RDF Plant. Kapasitas pengolahannya sekitar 1.000 ton sampah per hari,” jelasnya.
Rencana pembangunan fasilitas tersebut akan di lakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga atau badan usaha. Dengan kapasitas pengolahan mencapai sekitar 1.000 ton per hari.
RDF Plant di harapkan dapat menjadi salah satu bagian dari solusi untuk mengurangi beban sampah yang selama ini di tampung di TPA Cipayung.
Di luar pembangunan RDF Plant, DLHK Kota Depok juga menyiapkan opsi lain melalui kerja sama aglomerasi dengan Kabupaten Bogor.
Strategi tersebut menjadi salah satu alternatif karena Kota Depok memiliki keterbatasan lahan sehingga tidak memungkinkan untuk membuka TPA baru.
Dalam skema kerja sama tersebut, pengelolaan sampah akan di lakukan di kawasan Kayumanis, Bogor.
Lokasi tersebut di proyeksikan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton sampah setiap hari, dengan sekitar 700 ton di antaranya berasal dari Kota Depok.
Berbagai langkah yang di siapkan tersebut di arahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pola pembuangan sampah ke TPA.
Selain itu, strategi tersebut di harapkan dapat membantu memperpanjang usia layanan TPA Cipayung di tengah volume sampah Kota Depok yang terus meningkat.
Tidak hanya menyiapkan fasilitas pengolahan sampah, DLHK Kota Depok juga melakukan peremajaan terhadap sejumlah alat berat yang di gunakan dalam operasional TPA Cipayung.
Pembaruan peralatan di nilai penting agar proses penanganan timbunan sampah dapat di lakukan secara lebih optimal.
Peremajaan alat berat tersebut juga di tujukan untuk mendukung aspek keselamatan kerja bagi para petugas yang berada di lapangan.
Dengan kondisi peralatan yang lebih baik, proses pengelolaan timbunan sampah di TPA di harapkan dapat berlangsung lebih cepat dan aman.
“Kita juga melakukan peremajaan alat berat agar pekerjaannya lebih aman dan proses pengelolaan di TPA bisa berjalan lebih cepat,” pungkasnya.
(Jingga Sonjaya)



