CIAMIS, FOKUSJabar.id: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Ciamis menerima buku Hikayat Cihonje 1828yang disusun Pemerintah Desa Bangunharja, Kecamatan Cisaga.
Buku tersebut diserahkan Kepala Desa Bangunharja Carikin dan akan menjadi salah satu bahan literasi mengenai sejarah lokal di Kabupaten Ciamis, di Kantor Dispusip Ciamis, Kamis (20/08/2026).
Kepala Dispusip Kabupaten Ciamis Okta Jabal menyampaikan apresiasi atas langkah Pemerintah Desa Bangunharja yang telah mendokumentasikan perjalanan sejarah desanya dalam bentuk buku.
Baca Juga: Pilkades Ciamis 2026 Dijadwalkan Digital, 40 Desa Siapkan 176 TPS
“Atas nama Pemerintah Ciamis, terima kasih dan apresiasi sudah memberikan buku cikal bakal Bangunharja janten bahan literasi di Dispusip,” ujar Okta.
Menurutnya, keberadaan buku tersebut dapat memperkaya pengetahuan masyarakat mengenai sejarah, budaya, kultur, serta perkembangan kependudukan di wilayah Bangunharja. Dokumentasi semacam ini dinilai penting karena menjadi bagian dari literasi sejarah yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Jadi pengetahuan dari sisi sejarah, budaya, kultur dan kependudukan di sana. Ini kan salah satu literasi di perpustakaan di sini,” katanya.
Okta berharap dokumentasi sejarah desa dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi wilayahnya. Menurutnya, catatan mengenai asal-usul dan perjalanan sebuah daerah memiliki manfaat sebagai dokumentasi sekaligus referensi pembangunan.
“Ini menjadi motivasi berinovasi membangun lembur supaya maju lagi dan ada catatan sejarah, dokumentasi berdiri dan sejarahnya suatu tempat. Dan pasti bermanfaat,” ujarnya.
Melibatkan Sejumlah Pihak
Sementara itu, Kepala Desa Bangunharja, Carikin, mengatakan penyusunan buku Hikayat Cihonje 1828 dilakukan sebagai bagian dari upaya menggali dan mendokumentasikan sejarah desa agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menjelaskan, sebelum dilakukan peluncuran buku, pihak desa terlebih dahulu berencana menggelar lokakarya dengan melibatkan sejumlah pihak yang memahami sejarah Bangunharja. Di antaranya penulis akademis, tokoh masyarakat asal Bangunharja, serta sejarawan dari Astana Gede.
“Penulisnya juga dari akademisi asli orang Bangunharja, sejarawan Astana Gede,” kata Carikin.
Menurutnya, dokumentasi sejarah tersebut nantinya juga akan dilengkapi dengan catatan mengenai garis keturunan masyarakat atau leluhur yang berkaitan dengan sejarah Bangunharja. Data tersebut akan disandingkan dengan tulisan dalam buku untuk memperkuat sumber sejarah.
Baca Juga: Damkar Banjarsari Ciamis Padamkan Kebakaran di Pangandaran
“Garis keturunan akan disandingkan dengan tulisan ini. Apabila suatu saat ada dokumen yang tidak bisa ditelusuri, mudah-mudahan dari garis keturunan ini bisa membantu,” jelasnya.
Carikin menambahkan, sejarah Bangunharja tidak dapat dilepaskan dari perkembangan wilayah Galuh Timur.
“Sejumlah peninggalan leluhur juga masih ditemukan dan menjadi bagian penting dalam penelusuran sejarah desa,” ujarnya.
(Mia)



