BANDUNG,FOKUSJabar.id: Komunitas Kultur Seni Eksperimental (KULTSE) menggelar pameran seni unik di The Hallway Space Pasar Kosambi, Bandung. Kolektif ini merangkul seniman visual, pegiat seni suara, hingga programmer untuk merespon fenomena sosial, politik, dan isu lingkungan. Pameran kolaboratif ini mendulang dukungan dari Artnue Jakarta serta NFT Indonesia.
Penggagas KULTSE, Kang Punjung, sengaja memilih kawasan The Hallway Space. Karakter ruang semi-outdoor tempat tersebut memberikan akses terbuka bagi masyarakat luas, namun tetap menjaga keamanan karya-karya yang terpajang dari gangguan cuaca.
Baca Juga: Bandara Husein Sastranegara Bandung Go International, Inilah Rute Prioritas
“Awalnya saya memang cukup antusias dan senang dengan street art. Saya melihat ada kejujuran, spontanitas dan kebebasan di dalamnya. Jadi ketika berseni, saya lebih tertarik pada sesuatu yang tidak terlalu komersial dan masih memiliki spontanitas,” ujar Kang Punjung, Rabu, (12/8/2026).
Ia menambahkan, “Kalau terlalu outdoor, karya-karya seni kita kurang bisa dikontrol, terutama dari sisi keamanan. Tapi kalau terlalu tertutup juga masyarakat sulit mengapresiasi. Jadi ruang semi-outdoor seperti ini cukup mengakomodasi.”
Menyuarakan Keresahan dan Kritik Keadilan Sosial
Pameran ini mengangkat sorotan utama terhadap dinamika sosial-politik serta ketimpangan sistemik di tengah masyarakat. Melalui karya seni, para seniman mengajak pengunjung mencermati kebijakan publik dan relasi kekuasaan secara lebih objektif.
Kang Punjung menegaskan bahwa pameran ini hadir bukan sebagai aksi perlawanan frontal terhadap penguasa. Karya-karya tersebut bertujuan memantik ruang diskusi kritis bagi publik.
“Sekarang ini kita melihat banyak permainan. Ada aturan yang tertulis, tetapi dalam praktiknya bisa muncul tafsir yang berbeda karena kepentingan kekuasaan dan oligarki. Kita mencoba menyuarakan alternatif dari kondisi seperti itu,” ungkapnya.
“Kita tidak melawan. Apalagi kalau bukan penguasa, tentu berat. Kita hanya ingin memberikan kesadaran bahwa sebenarnya kita sedang berada dalam sebuah krisis,” kata Punjung.
Melihat Kebijakan Publik dari Sisi Lain
Sisi menarik pameran ini mencakup kritik terhadap program-program kesejahteraan milik pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). KULTSE mengajak publik membaca program-program tersebut dari perspektif politik power dan kepentingan eksekutif.
“Di satu sisi kebijakannya berbicara tentang kesejahteraan dan pemerataan. Tapi di sisi lain kita juga bisa melihatnya dari perspektif lain. Apakah program-program itu juga bisa menjadi bagian dari infrastruktur politik? Itu yang menurut saya perlu kita kritisi,” tuturnya.
“Intinya kita ingin mengkampanyekan hal-hal alternatif di luar itu. Selama kita masih sebagai seniman dan tidak terafiliasi dengan kepentingan tertentu, mungkin kita masih bisa menyuarakan keresahan seperti ini,” ujarnya.
Refleksi Isu Lingkungan dan Pengalaman di Papua
Proyek visual Kang Punjung di Papua beberapa waktu lalu turut mewarnai pameran ini. Pengalaman menyaksikan bentang alam kawasan timur Indonesia mendorongnya memanfaatkan material daur ulang dalam berkarya.
“Ketika saya datang ke Papua untuk mengerjakan proyek visual, saya merasa seperti masuk ke sebuah planet lain. Setelah itu muncul berbagai informasi mengenai kondisi lingkungan yang semakin banyak saya lihat. Ternyata memang banyak hal yang kacau,” katanya.
Seni Membangun Kesadaran Masyarakat
Melalui wadah KULTSE, para seniman berharap karya interaktif ini memicu pertanyaan mendalam bagi setiap pengunjung mengenai posisi mereka di tengah struktur sosial yang ada.
“Saya tidak terlalu muluk-muluk. Harapannya cukup mereka sadar bahwa mereka sedang berada di dalam sebuah sistem. Sistem itu belum tentu selalu bekerja berdasarkan kerja keras dan prestasi, tetapi ada banyak kepentingan di dalamnya,” ujarnya.
“Kalau mau berada di posisi itu silakan. Kalau tidak, kita coba bertarung saja. Walaupun kelompok yang kita pilih mungkin kalah atau tertindas, tidak apa-apa. Yang penting berani berada di posisi itu,” tambahnya.
Mengakhiri perbincangan, Punjung menyimpulkan misi utama pameran ini.
“Yang ingin kita bangun sebenarnya sederhana, yaitu kesadaran di sekitar kita,” pungkas Punjung.
(Alpin Septian)



