BANDUNG,FOKUSJabar.id: Rumah Yatim mencatat sebanyak 453.558 jiwa menerima manfaat dari berbagai program sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Ratusan ribu penerima manfaat tersebut tersebar di 19 provinsi melalui program yang mencakup bidang kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga dakwah.
Berdasarkan laporan penerima manfaat semester pertama 2026, program kemanusiaan menjadi bidang dengan jangkauan terbesar, yakni mencapai 369.929 jiwa.
Baca Juga: Cabai Tanjung di Pasar Kosambi Kota Bandung Harganya Makin Pedas
Kemudian, program pendidikan menjangkau 63.560 penerima manfaat, dakwah sebanyak 14.650 jiwa, kesehatan 4.765 jiwa, dan ekonomi sebanyak 654 jiwa.
Direktur Marketing dan Komunikasi Rumah Yatim, Sani Ramdani, mengatakan data tersebut menjadi gambaran terhadap jangkauan program yang telah dilakukan. Sekaligus bahan evaluasi untuk pelaksanaan program berikutnya.
“Angka ini bukan sekadar jumlah penerima manfaat, tetapi menjadi gambaran dari ikhtiar Rumah Yatim. Dalam menjangkau berbagai kelompok masyarakat di sejumlah wilayah. Data ini juga menjadi bahan evaluasi agar program ke depan semakin tepat sasaran. Juga memberikan manfaat yang berkelanjutan,” kata Sani Selasa (11/8/2026).
Sani menjelaskan, jika di lihat berdasarkan kategori asnaf, penerima manfaat Rumah Yatim di dominasi kelompok miskin dengan jumlah 337.779 jiwa. Kemudian terdapat 67.411 jiwa kategori fakir dan 48.368 jiwa yang masuk kategori fisabilillah.
Sementara berdasarkan kelompok usia, penerima manfaat terdiri dari 252.061 jiwa dewasa, 116.354 jiwa yatim dan dhuafa, serta 85.143 jiwa lansia.
Rumah Yatim juga mencatat sejumlah program yang dijalankan berkontribusi terhadap indikator Sustainable Development Goals (SDGs).
Inilah Jumlah Penerima Manfaat
Sebanyak 370.871 penerima manfaat tercatat dalam program yang berkaitan dengan pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Rinciannya, 321.645 penerima manfaat berada pada program pembangunan sosial, 12.771 penerima pada pembangunan ekonomi, dan 36.455 penerima pada pembangunan lingkungan.
Sani menegaskan, evaluasi berbasis data diperlukan agar program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada penyaluran bantuan. Tetapi juga memberikan dampak yang lebih nyata.
Baca Juga: Operasi Gabungan Gagalkan Penyelundupan 1,3 Ton Ketamine di Perairan Natuna
“Kami terus berupaya agar pelaksanaan program tidak berhenti pada penyaluran. Tetapi juga dapat memberikan dampak yang lebih nyata bagi penerima manfaat. Karena itu, evaluasi berdasarkan data menjadi salah satu dasar dalam menentukan arah program selanjutnya,” jelasnya.
Dalam periode yang sama, Rumah Yatim mencatat dukungan dari 39 mitra dan pemanfaatan 28 sarana prasarana. Untuk mendukung pelaksanaan berbagai program.
Data semester pertama 2026 tersebut akan menjadi salah satu bahan evaluasi Rumah Yatim. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan, ketepatan sasaran, serta keberlanjutan program bagi masyarakat yang membutuhkan.
(Yusuf Mugni)



