spot_imgspot_img
Selasa 28 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Di Balik Keterbatasan, SLB Karya Bhakti Bandung Tetap Perjuangkan Masa Depan Anak Disabilitas

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Sekolah Luar Biasa (SLB) Karya Bhakti di Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, mengarungi situasi pelik. Pengelola sekolah berjuang keras menjaring siswa baru hingga kini hanya mengasuh 16 anak didik.

Meski demikian, SLB Karya Bhakti terus membuka pintu bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan kondisi berat yang sering kali mendapat penolakan dari sekolah lain.

Baca Juga: Miris! Hanya 16 Siswa, SLB di Kota Bandung Terancam Tutup karena Lingkungan Rawan dan Bangunan Rapuh

Pihak sekolah memilih bertahan di tengah keterbatasan fasilitas, sempitnya ruang belajar, hingga ketidakjelasan status kepemilikan tanah yang mengunci pengembangan infrastruktur.

Guru SLB Karya Bhakti, Deni Gusmawan, mengakui bahwa krisis peserta didik menjadi tantangan paling berat bagi kelangsungan sekolah. Kondisi bangunan serta lingkungan sekitar turut menahan minat para calon wali murid.

“Untuk keadaan real sekarang, mungkin kalau disebut kita masih bertahan. Situasinya memang agak sulit untuk mencari murid. Karena itu, yang menjadi penting buat sekolah kita utamanya adalah murid,” kata Deni di lokasi sekolah, Selasa (28/7/2026).

Deni menegaskan bahwa kondisi fisik sekolah menjadi pertimbangan utama orang tua. Minimnya perbaikan fasilitas membuat sekolah ini kalah bersaing dengan lembaga pendidikan lain.

“Yang menjadi problem itu suasana di lingkungan ini. Mungkin tadi juga sudah dilihat bangunannya seperti apa. Ini menjadi nilai minus buat kita. Makanya penambahan siswa di sini kurang bertambah seperti di sekolah lain, karena memang sulit berkembang secara infrastruktur,” katanya.

Kendala Fasilitas Bangunan Fisik

Selain persoalan fisik bangunan, sengketa atau ketidakjelasan status tanah menghambat niat yayasan memperluas bangunan sekolah.

Demi menjaga denyut nadi kegiatan operasional harian, SLB Karya Bhakti menyandarkan harapan penuh pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat.

“Kami bertahan dari dana BOS. Alhamdulillah pemerintah masih rutin memberikan BOS sesuai aturan yang diberlakukan. Ini menjadi lifeline kami, menjadi penyambung hidup sekolah ini,” ungkapnya.

Di balik keterbatasan tersebut, Deni menilai kehadiran sekolah ini sangat vital. Pasalnya, beberapa anak dengan tingkat disabilitas tertentu tidak menemukan tempat belajar di sekolah lain.

“Ada beberapa kondisi yang membuat murid-murid tidak diterima di sekolah lain. Misalnya karena kedisabilitasannya, mereka mungkin tidak mampu menanganinya,” jelasnya.

Sistem pembelajaran di SLB Karya Bhakti membutuhkan kesabaran ekstra. Beberapa anak memerlukan pendampingan satu lawan satu (one-on-one), di mana satu guru fokus menangani satu murid.

“Kalau kita lihat, ada anak-anak yang memang harus ditangani dengan satu guru untuk satu anak. Sementara sekolah lain mengejar kuantitas. Di sini kami menerima semuanya, walaupun berdampak pada daya tampung sekolah yang menjadi lebih kecil,” ujarnya.

Ketulusan Pengabdian

Data Dapodik mencatat SLB Karya Bhakti mengasuh 16 siswa. Lima di antaranya mengidap autisme, sementara sisanya merupakan anak dengan down syndrome, tunagrahita, tunadaksa, hingga disabilitas ganda.

Sempitnya ruangan yang rata-rata hanya berukuran 2 x 3 meter memaksa pengelola membatasi kapasitas tiap kelas demi menjaga ketenangan siswa.

“Untuk anak autis, jelas satu guru satu anak. Kalau untuk anak down syndrome dan tunagrahita yang bisa diklasikalkan, maksimal lima anak supaya kondusivitas kelas tetap terjaga,” katanya.

Mengabdi selama 15 tahun di SLB Karya Bhakti, Deni mengaku keceriaan para siswa menjadi alasan utama para pengajar bertahan di tengah keterbatasan.

“Setiap hari kami tidak pernah kehabisan alasan untuk tersenyum, karena anak-anak di sini memberikan kebahagiaan buat kami. Kadang ada celotehan-celotehan mereka yang membuat hari kami lebih berwarna,” ungkapnya.

Namun, ketulusan pengabdian tersebut belum berbanding lurus dengan kesejahteraan para guru. Deni membawa pulang honor pokok sekitar Rp700 ribu per bulan, atau mendekati Rp1 juta jika mengantongi tunjangan sertifikasi dan kegiatan ekstrakurikuler.

“Kalau disebut cukup, ya dicukup-cukupin saja. Tergantung kitanya,” kata Deni.

Deni memendam harapan agar SLB Karya Bhakti sanggup lepas dari jerat keterbatasan. Ia mendambakan fasilitas yang lebih layak demi mewujudkan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak disabilitas.

“Impian kami bukan hanya bertahan di sini, tetapi juga ingin berkembang dan mengembangkan cita-cita sekolah ini,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru