spot_imgspot_img
Jumat 24 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Harga Beras di Pangandaran Diprediksi Naik, Kemarau dan Ancaman Gagal Panen Jadi Pemicu

PANGANDARAN,FOKUSjabar.id: Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUKMPP) Kabupaten Pangandaran memprediksi potensi lonjakan harga beras di pasaran lokal. Risiko kekeringan musim kemarau serta tingginya permintaan bahan baku menjadi pemicu utama ancaman kenaikan tersebut.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Kemetrologian DKUKMPP Kabupaten Pangandaran, Supendi, mengonfirmasi bahwa instansinya mulai menyiapkan langkah antisipasi jika musim kemarau berlangsung dalam jangka waktu lama.

Baca Juga: Bupati Pangandaran Ajak Masyarakat Saksikan Kejurnas Pacuan Kuda Indonesia Derby 2026 di Legok Jawa

“Tidak hanya akibat faktor kemarau yang berpotensi menyebabkan gagal panen, tetapi permintaan bahan bakunya juga sudah tinggi. Jadi, harga beras berpotensi naik,” ujar Supendi di kantornya, Jumat (24/7/2026).

Pemantauan pasar oleh DKUKMPP menunjukkan harga beras saat ini masih berada dalam taraf stabil. Para pedagang melepas beras medium di kisaran Rp13.500 hingga Rp14.000 per kilogram, sedangkan beras kualitas premium bertahan di rentang Rp14.900 sampai Rp16.000 per kilogram.

Kendati demikian, Supendi memperingatkan risiko fluktuasi harga jika kekeringan parah melanda kawasan pertanian.

“Kalau terjadi kekeringan berkepanjangan, kemungkinan harga beras akan naik lagi,” katanya.

Supendi turut membeberkan fenomena unik terkait pasokan komoditas pangan ini. Sebagian besar pedagang di Pangandaran justru mendatangkan beras dari luar wilayah karena para petani lokal condong menjual gabah kering ke pedagang luar daerah. Setelah penggilingan luar mengolahnya menjadi beras, distributor memasok kembali produk tersebut ke pasar Pangandaran.

“Banyak petani di Pangandaran menjual gabah kering ke luar daerah. Setelah diolah menjadi beras, produk itu kemudian kembali dipasok ke Pangandaran. Jadi, beras yang beredar di pasar sebagian besar berasal dari luar,” ucapnya.

Dampak Dari Kemarau

Dampak kemarau kini menghampiri para petani di lapangan. Dadi (49), seorang petani asal Kecamatan Padaherang, mengeluhkan kondisi sawahnya yang terancam gagal panen akibat krisis pasokan air.

Lahan pertanian miliknya mengalami retak-retak tanah karena air irigasi yang sangat terbatas harus terbagi dengan area persawahan lain.

“Padahal tanaman padi sekarang sudah mulai berbuah sehingga sangat membutuhkan air. Namun air irigasi tidak maksimal karena harus dibagi-bagi, sementara tanah sawah sudah pecah-pecah akibat kekeringan,” ujarnya.

DKUKMPP Pangandaran menegaskan komitmennya untuk terus mengawasi pergerakan harga serta ketersediaan pasokan beras guna mencegah lonjakan ekstrem di masyarakat.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru