PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Serangan hama wereng kini membayangi para petani padi di Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Serangga kecil dari ordo Hemiptera tersebut menghisap cairan tanaman padi hingga daunnya membanding dan menguning.
Fenomena ini menjadi ujian berat bagi para petani pada musim tanam tahun ini, khususnya yang menggarap lahan di Desa Paledah dan Desa Maruyungsari.
Baca Juga: 850 Hektare Sawah Langganan Banjir di Pangandaran Segera Panen Raya
Kepala Desa Paledah, Yanto, membenarkan bahwa wereng cokelat mulai menyerang tanaman padi di wilayahnya. Padahal, pertumbuhan tanaman saat ini sedang memasuki fase terbaik.
“Saat ini kondisi padi lagi bagus-bagusnya. Mudah-mudahan ada sedikitlah hama werengnya,” ujar Yanto saat memberikan keterangan di kantornya, Rabu (22/7/2026).
Yanto menambahkan, fenomena ini sebenarnya bukan hal baru bagi warga setempat. Pengalaman bertahun-tahun membuat para petani mampu merespons ancaman tersebut secara mandiri.
“Alhamdulillah sudah bisa diatasi, karena para petani sudah tahu senjatanya (caranya) harus pakai apa untuk mengatasinya,” kata Yanto.
Walang Sangit Turun Menyerang
Di tempat terpisah, Kepala Desa Maruyungsari, Tusiman, mengungkapkan bahwa desanya juga menghadapi ancaman hama lain seperti walang sangit.
“Sekarang alhamdulillah. Hama ada tapi sedikit ada walang sangit, paling disemprot pakai DANGKE,” tutur Tusiman.
Menurut Tusiman, walang sangit biasanya menyerang ketika bulir padi mulai meratak atau keluar. Namun, intensitas serangan kali ini tergolong rendah jika membandingkannya dengan musim-musim sebelumnya.
“Kalau lagi meratak itu ada walangnya kadang-kadang tapi enggak seperti biasanya enggak begitu banyak. Disemprot pakai DANGKE itu saja,” jelasnya.
Mengenai keberadaan wereng, Tusiman menilai populasinya masih terkendali. Ia menyebut area bersuhu lembap dan banyak air biasanya menjadi tempat favorit wereng untuk berkembang biak.
“Wereng alhamdulillah sedikit. Di sini kan engga kekeringan sedikit nunggu dari irigasi,” tambah Tusiman.
Tusiman mengamati adanya pergeseran tantangan pertanian di wilayahnya. Dahulu, luapan banjir menjadi musuh utama para petani, namun kini fokus ancaman beralih pada pergerakan hama menjelang masa panen.
“Dan itu mungkin dua permasalahan ketika sekarang menghadapi musim panen. Kalau dulu kan banjir. Sekarang masalah hama,” tutup Tusiman.
(Sajidin)



