GARUT, FOKUSJabar,id: Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen mengapresiasi atas lahirnya kajian akademik berupa tesis Magister Navida Febrina Syafaaty berjudul Masalah Keagamaan dan Genealogi Raden Fatah (1483–1518) yang di susun di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dia menilai, penelitian tersebut merupakan kontribusi akademik yang penting karena menghadirkan perspektif baru mengenai genealogi Raden Fatah. Termasuk hipotesis adanya hubungan genealogis dengan Sunan Rumenggong, tokoh yang di kenal dalam tradisi sejarah Tatar Sunda.
BACA JUGA:
Diduga Ada Masalah, Deden Sopian Minta BPK Periksa Pembangunan RSUD Limbangan
“Kami menyambut baik lahirnya penelitian ini sebagai bagian dari dinamika akademik. Kajian tersebut memperkaya khazanah historiografi Indonesia dan membuka ruang diskusi ilmiah mengenai peran Tatar Sunda dalam perkembangan Islam Nusantara,” kata Holil.
Menurut Dia, keberanian menghadirkan perspektif baru melalui penelitian ilmiah patut di apresiasi. Setiap tesis merupakan hasil kajian akademik yang sah dan memiliki nilai penting untuk memperluas wawasan sejarah, sekaligus menjadi bahan dialog ilmiah yang konstruktif.
Meski begitu, pihaknya menegaskan bahwa hipotesis mengenai hubungan genealogis Sunan Rumenggong dengan Raden Fatah masih memerlukan penelitian lanjutan dan belum dapat di pandang sebagai kesimpulan akhir yang telah menjadi konsensus para sejarawan.
“Kami menghormati proses akademik. Sebuah tesis adalah kontribusi ilmiah yang harus di uji melalui penelitian berikutnya. Karena itu, penelitian ini hendaknya menjadi awal bagi lahirnya kajian-kajian baru, bukan akhir dari perdebatan sejarah,” ungkap Ketum PM Gatra.
BACA JUGA:
Disperkim Garut Sosialisasi dan FGD Perubahan Perbup Pengelolaan PSU Perumahan
Holil menilai, penelitian tersebut menjadi momentum penting untuk mendorong inventarisasi manuskrip kuno, penelitian filologi, kajian genealogi serta penelitian arkeologi terhadap situs-situs sejarah di Limbangan dan wilayah Tatar Sunda lainnya.
Menurut organisasi tersebut, apabila penelitian lanjutan berhasil memperkuat hipotesis yang di ajukan, maka sejarah Islam Nusantara berpotensi memperoleh perspektif baru mengenai hubungan antara Kerajaan Sunda, Cirebon dan Kesultanan Demak.
Sebaliknya, apabila di temukan bukti yang berbeda. Maka koreksi terhadap hipotesis tersebut juga merupakan bagian dari proses ilmiah yang harus di hormati.
Untuk itu, pihaknya mengajak perguruan tinggi, para sejarawan, filolog, budayawan serta Pemda untuk menjadikan kekayaan sejarah Tatar Sunda sebagai objek penelitian yang lebih serius dan berkelanjutan.
“Sejarah lokal tidak boleh hanya hidup dalam tradisi lisan. Tapi harus di teliti, di dokumentasikan dan di kaji secara ilmiah agar dapat memberikan kontribusi bagi historiografi nasional. Kami berharap, kajian ini menjadi pemicu lahirnya penelitian-penelitian baru yang semakin memperjelas peran Tatar Sunda dalam sejarah Islam Indonesia,” katanya.
PM Gatra meyakini bahwa semakin banyak penelitian yang di lakukan secara objektif, terbuka dan berbasis bukti, semakin lengkap pula pemahaman bangsa terhadap sejarah Nusantara.
Karena itu, setiap karya ilmiah yang lahir patut di apresiasi sebagai bagian dari ikhtiar bersama membangun historiografi Indonesia yang lebih kaya, inklusif dan berlandaskan bukti.
(Bambang Fouristian)



