TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Lingkungan lembaga pendidikan wajib steril dari ancaman marabahaya agar aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) menggelinding lancar tanpa hambatan. Keamanan ruang kelas menjadi syarat mutlak agar anak didik mampu menyerap materi pembelajaran secara optimal dan sempurna.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, menekankan urgensi tersebut saat membuka Workshop Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Agenda kolaboratif bersama Biro Umum dan Pengadaan Barang dan Jasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI ini berlangsung di Horison Hotel, Jalan Yudanegara, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Minggu (21/6/2026).
Baca Juga: Dandim 0612/Tasikmalaya Bicara Fakta Video Viral “Darurat Agraria” di Karangjaya
Pertemuan kaya khazanah keilmuan ini menghadirkan Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Candra Negara, Kepala Biro Umum dan Pengadaan Kemendikdasmen RI Herdiana, serta perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat. Ratusan kepala sekolah, guru, dan pengawas se-Tasikmalaya Raya turut memadati ruang seminar.
“Workshop SPAB ini menyuguhkan pencerahan sekaligus mematangkan kesiapan seluruh unsur dalam ekosistem sekolah. Mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga murid harus mampu mengeksekusi langkah pencegahan dan mitigasi saat menghadapi bencana luar biasa seperti gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, banjir, hingga tsunami,” kataFerdiansyah, Minggu (21/6/2026).
Ferdiansyah menilai isu kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana alam sebagai hal yang sangat krusial. Pemahaman kolektif ini bertujuan agar setiap individu di lingkungan sekolah langsung memahami pembagian peran dan tindakan nyata saat sirine bahaya berbunyi, sehingga mampu meminimalisir dampak kerugian materiil maupun korban jiwa.
Ancaman ‘Bencana Akhlak’ dan Krisis Moral di Lingkungan Sekolah
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, melayangkan apresiasi tinggi atas inisiatif Komisi X DPR RI dan Kemendikdasmen RI yang telah mengguyur komponen pendidikan lokal dengan pembekalan mitigasi. Menurut Dicky, kesiapsiagaan mutlak menjadi budaya harian mengingat wilayah Tasikmalaya secara geografis masuk dalam zona merah rawan gempa, banjir, dan longsor.
“Kita tidak boleh baru terperanjat dan bergerak setelah jatuh korban jiwa. SPAB ini merupakan langkah konkret pemerintah untuk menjamin keselamatan guru dan murid di dalam kelas,” tegasnya.
Namun, orang nomor dua di Kota Tasikmalaya ini juga melempar sudut pandang lain yang tidak kalah berbahaya. Yakni fenomena kerusakan moral atau ‘bencana akhlak’. Ia memaparkan bahwa rentetan petaka alam di bumi kerap kali berhulu dari runtuhnya krisis moral manusia yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
“Bencana fisik sering kali berakar dari bencana akhlak. Tengok saja pola pembangunan yang mengabaikan analisis dampak lingkungan dan aksi menebang pohon secara serampangan. Hingga kebiasaan membuang limbah sampah ke aliran sungai yang memicu banjir bandang. Jika manusia merawat akhlak dengan baik, niscaya alam sekitar juga akan bersahabat,” jelasnya.
Oleh karena itu, Ia mendesak agar implementasi program SPAB tidak melulu mandek pada aspek teknis kepelatihan fisik semata. Jajaran pendidik wajib mengintegrasikan pembentukan karakter dan nilai sportivitas. Serta penolakan terhadap aksi perundungan (bullying) dan kenakalan remaja sebagai bagian dari benteng pertahanan sekolah aman bencana moral.
Sebagai tindak lanjut operasional, workshop intensif ini menggembleng para peserta untuk menguasai tiga keahlian inti. Yaitu penyusunan dokumen rencana kontingensi sekolah, simulasi taktis evakuasi mandiri, serta metode integrasi materi kebencanaan ke dalam struktur Kurikulum Merdeka.
(Seda)



