PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Data Disdukcapil Kabupaten Pangandaran 2025 mencatat sebanyak 60.573 warga Pangandaran bekerja sebagai petani, angka ini jauh melampaui sektor nelayan yang hanya 2.534 orang.
Jumlah petani hampir 24 kali lipat di banding nelayan. Fakta itu menunjukkan sektor pertanian masih menjadi mata pencaharian utama bagi warga Pangandaran.
Besarnya peran sektor pertanian tercermin dari luas lahan. Data Dinas Pertanian Pangandaran 2025 menyebut luas tanam padi sawah mencapai 39.439 hektare dengan luas panen 36.167 hektare.
Baca Juga: 33 Desa di Pangandaran Aktifkan Domain desa.id
Dari luasan itu, produksi padi sawah sepanjang 2025 mencapai 220.123,11 ton. Angka tersebut menjadi penopang ekonomi daerah sekaligus sumber pangan utama.
Namun di balik besarnya kontribusi pertanian, petani masih menghadapi persoalan klasik, yakni ketersediaan air saat musim kemarau dan terendam banjir di musim hujan.
Toni Taufik, petani asal Kecamatan Mangunjaya, merasakan langsung dampaknya. Selama 10 tahun bertani, ia mengelola sawah seluas 300 bata yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.
”Kalau dulu air masih normal. Sedikitnya ketika musim kemarau masih bisa di pertahankan. Sekarang setiap musim kemarau petani sering kekurangan air. Ketika debit air berkurang, petani jadi berebut air,” ujar Toni Kamis, (18/6/2026).
Padahal lahan miliknya tercatat sebagai sawah irigasi karena ada saluran. Namun kenyataannya, para petani di wilayah tersebut masih bergantung pada hujan.
”Menurut informasi ini sawah irigasi karena salurannya ada. Tapi kenyataannya jadi seperti sawah tadah hujan. Petani mengandalkan hujan yang turun dari langit,” katanya.
Kekurangan air berdampak langsung pada produktivitas. Toni mengaku hasil panen normal bisa mencapai 8 kuintal. Namun panen terakhir hanya 5 kuintal lebih.
”Kalau lagi bagus bisa sampai 8 kuintal. Panen kemarin hanya sekitar 5 kuintal lebih,” ungkapnya.
Selain kekeringan, petani juga di hantui serangan hama. Tapi menurut Toni, air tetap jadi kendala utama karena menentukan keberhasilan panen.
Kesulitan Pemasaran
Untuk pemasaran, ia mengaku tidak kesulitan. Tengkulak dan pedagang gabah datang langsung ke petani. Harga gabah kemarin tercatat Rp750.000 per kuintal.
Kondisi berbeda di alami Ade, petani asal kecamatan Padaherang yang justru sering terendam banjir saat musim penghujan tiba.
Ade, mengaku setiap musim tanam harus berulang kali memupuk sawahnya. Bukan karena tanaman kurang subur, melainkan pupuk yang di taburkan selalu hanyut terendam banjir.
Baca Juga: Tongkang Batubara Didamparkan di Pantai Sukaresik Pangandaran, Kenapa?
”Dalam satu musim tanam sering melakukan pemupukan karena pupuk yang di taburkan terendam banjir,” ujar Ade.
Akibatnya, biaya produksi membengkak. Petani harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli pupuk tambahan. Padahal hasil panen tidak sebanding karena tanaman yang terendam terlalu lama rawan gagal tumbuh.
Dua sisi persoalan ini menunjukkan tantangan pengelolaan air masih jadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah. Tanpa sistem irigasi dan drainase yang memadai, pertanian sebagai tulang punggung ekonomi Pangandaran akan terus terombang-ambing antara kekeringan dan banjir.
(Sajidin)



