spot_imgspot_img
Kamis 18 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Eksotisme Muara Cimedang Tasikmalaya Selatan Dilupakan Pemerintah

TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Jalur pesisir Pantai Tasikmalaya Selatan (Tasela) seolah tak pernah kehabisan cerita tentang surga tersembunyi yang masih perawan.

Salah satu permata yang belum banyak terjamah radar wisatawan luas adalah Wisata Pantai dan Bumi Perkemahan (Buper) Cikabuyutan Muara Cimedang.

BACA JUGA:

Diduga Beroperasi dengan Izin Mati, Tambang di Kota Tasikmalaya Terancam Disegel

​Berlokasi di Desa Sindangjaya Kecamatan Cikalong, destinasi ini menawarkan harmoni alam yang langka. Di mana menjadi tempat titik bertemunya aliran Sungai Cimedang yang tenang dengan gulungan ombak megah khas Pantai Selatan. Sebuah lukisan alam nyata yang siap memanjakan mata siapa saja yang berkunjung.

​Pesona Eco-Camping Berkapasitas 100 Tenda

​Tak hanya menyuguhkan panorama pantai yang eksotis, kawasan ini juga memiliki Bumi Perkemahan Cikabuyutan yang sangat luas.

Dengan kapasitas yang mampu menampung hingga 100 tenda, Buper Cikabuyutan menjadi lokasi ideal untuk kegiatan Pramuka dan kemah bakti, Gathering sekolah atau perusahaan dan juga surga bagi para pencinta camping mandiri yang merindukan sensasi bermalam di tepi laut lepas.

Akses Strategis, Sayang Infrastruktur Masih “Pilih Kasih”

​Secara geografis, surga tersembunyi ini sebenarnya sangat mudah di jangkau. Jaraknya hanya sekitar 50 meter dari bibir Jalan Nasional Jawa Barat Selatan yang menghubungkan Sukabumi hingga Pangandaran.

​Bagi pelancong dari arah Kota Tasikmalaya, rute paling nyaman adalah melalui jalan provinsi via Karangnunggal, melintasi Pantai Sindangkerta dan melewati Pantai Pamayang di Desa Cikawungading.

​Sebenarnya, ada jalur alternatif milik Kabupaten Tasikmalaya yang membelah Kecamatan Salopa atau Cikatomas. Sayangnya, jalur ini masih menyisakan pekerjaan rumah karena kondisinya yang kurang bersahabat dan menguji kesabaran pengendara.

BACA JUGA:

Ratusan Warga Padati Mapolres Tasikmalaya untuk Berobat dan Khitan Gratis

​Daya tarik utama Muara Cimedang bukan sekadar komoditas visual semata. Melainkan sebuah simbol kegigihan warga lokal dalam menjaga lingkungan. Namun, menjaga alam di garis pantai selatan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.

​Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Sumber Daya Pesisir dan Kelautan (Pokmaswas) sekaligus pegiat Petugas Penjaga Leuweung Pantai Tasela (Jagleuw), Ajat Sudrajat menceritakan, pasang surut perjuangan warga yang sudah di mulai sejak tahun 2016 lalu.

​“Dulu sekitar tahun 2016, lokasi ini di kelola secara swadaya oleh Karang Taruna Desa Sindangjaya. Kami sediakan MCK, musala dan fasilitas penunjang lainnya. Kami juga menanam ribuan pohon konservasi seperti mangrove untuk menahan abrasi. Tapi, derasnya ombak dan hantaman angin laut membuat semuanya luluh lantak,” ungkap Ajat.

​Meski fasilitas penunjang hancur dan ribuan pohon penahan abrasi tersapu badai, api semangat warga Sindangjaya tidak pernah padam.

Melalui sinergi antara Jagleuw, Karang Taruna dan masyarakat, aksi penanaman pohon terus di galakkan secara berkala.

​Hasil dari ketekunan itu mulai berbuah manis. Meski fasilitasnya kini kembali seadanya, bumi perkemahan ini kerap ramai di kunjungi rombongan guru dan siswa untuk kegiatan kepramukaan.

​“Hingga kini, semua penataan di lakukan mandiri bermodalkan swadaya dan kemampuan desa. Dari Pemkab Tasikmalaya, dalam hal ini Dinas Pariwisata, jujur saja belum ada perhatian serius. Baru sebatas di lirik,” tambah Ajat.

Janji Manis Program “Wisdes” yang Berakhir di Atas Kertas

​Kekecewaan senada juga di rasakan oleh Ketua Karang Taruna Desa Sindangjaya, Ujang Indra. Pihaknya mengaku telah menempuh berbagai cara agar potensi wisata berbasis kemah ramah lingkungan (eco-camping) ini naik kelas.

​Dua tahun ke belakang, harapan sempat membubung tinggi ketika lokasi ini di survei langsung oleh tim pendamping program Wisata Desa (Wisdes) yang di gagas oleh Kemenparekraf di era Sandiaga Uno bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

​“Bahkan kami dari Karang Taruna sempat di undang langsung ke Salopa untuk memaparkan seluruh potensi wisata dan bumi perkemahan ini. Rencananya, Muara Cimedang mau di jadikan destinasi unggulan wisata desa di pesisir Tasela. Tapi sampai sekarang, kami masih harus berjuang sendiri dengan kemampuan yang ada,” kata Ujang.

BACA JUGA:

Banyak Pasien Kaget Harus Bayar Saat Rawat Inap, BPJS Kesehatan Akhirnya Buka Suara

​Sikap pantang menyerah ini juga di aminkan oleh Wahidin (71), seorang pensiunan Dinas PU Kabupaten Tasikmalaya yang tinggal tak jauh dari lokasi pantai.

Di usia senjanya, ia memimpikan Muara Cimedang bertransformasi menjadi kawasan wisata kepramukaan yang mandiri dan asri.

​“Setiap hari kami melihat potensi besar di depan mata. Makanya, warga tidak pernah bosan menanam pohon penahan abrasi, karena kami ingin area ini aman dan bisa di nikmati anak cucu nanti,” harap Wahidin.

​Menanti Intervensi Pemerintah Pemkab Tasikmalaya

​Melihat antusiasme warga yang begitu masif, Kepala Desa Sindangjaya, Asep Mulyana menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan swadaya yang di motori Karang Taruna, Jagleuw dan masyarakatnya.

​Pihak pemerintah desa telah memasukkan pengembangan Wisata Pantai dan Bumi Perkemahan Cikabuyutan Muara Cimedang ke dalam agenda serta program prioritas desa.

Targetnya jelas. Yakni, menghidupkan kembali konsep wisata bihari (tempo dulu) yang berwawasan lingkungan.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru