BANDUNG,FOKUSJabar.id: Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Keolahragaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Yudha Munajat Saputra, menciptakan terobosan mutakhir berupa sistem supervisi berbasis digital bagi guru Pendidikan Jasmani (Penjas) tingkat sekolah dasar. Guna membumikan hasil risetnya, ia menggembleng puluhan guru olahraga asal Kabupaten Bandung Barat (KBB) dalam pelatihan intensif di Aula Sekolah Pasca Sarjana (SPS) UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Rabu-Kamis (10-11/6/2026).
Prof. Yudha membeberkan bahwa ia merancang penelitian ini setelah melihat model pengawasan konvensional yang tidak lagi efektif pada era digital. Kondisi tersebut mendorong mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jabar ini untuk menelurkan aplikasi khusus yang mempermudah guru olahraga dalam menjalankan proses pengawasan, pembinaan, serta bimbingan instruksional.
Baca Juga: Konprov PWI Jabar 2026 Digelar di Bandung, Farhan Nyatakan Dukungan Penuh
“Aplikasi supervisi berbasis digital ini menjadi yang pertama di Indonesia. Kami menawarkan rupa-rupa manfaat nyata bagi guru penjas SD, mulai dari sistem operasional yang jauh lebih mudah, efisiensi waktu, hingga pemangkasan biaya logistik. Faktor-faktor teknis seperti biaya dan waktu selama ini kerap menjegal para guru saat hendak melakukan supervisi,” urai Prof. Yudha, Rabu (10/6/2026).
Pada fase perdana ini, tim peneliti UPI mengundang 30 orang perwakilan guru penjas sekolah dasar dari wilayah KBB. Selama dua hari penuh, para peserta menerima bimbingan teknis mutakhir. Serta mempraktikkan langsung pengoperasian aplikasi supervisi digital tersebut agar siap menyebarluaskan ilmu baru ini ke rekan sejawat di daerah asal.
Dobrak Stigma Guru Lapangan, Aplikasi UPI Pacu Budaya Gerak Siswa Sejak Dini
Mantan Dekan FPOK UPI periode 2008-2012 ini berharap penerapan teknologi pengawasan mampu mendongkrak profesionalitas guru olahraga. Langkah ini sekaligus mematahkan stigma miring publik yang selama ini menganggap guru penjas kurang berkontribusi terhadap peningkatan mutu tenaga pendidik akibat pola mengajar yang dinilai monoton.
“Selama ini, masyarakat kadung mengidentikkan guru penjas dengan aktivitas lapangan yang hanya bergulir seminggu sekali. Padahal, esensi pembelajaran olahraga tidak harus melulu bertumpu di luar ruangan. Melainkan bisa mengalir di dalam ruang kelas secara interaktif dengan frekuensi yang lebih terjadwal,” tegas Yudha.
Kehadiran aplikasi digital ini memberikan ruang bagi para guru olahraga untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih dinamis dan terukur. Sistem ini mengontrol kinerja guru agar menyampaikan materi keolahragaan secara presisi, ilmiah, dan terstruktur.
“Aplikasi ini memantau performa mengajar para guru demi memastikan proses transfer ilmu olahraga berjalan secara benar. Dampak jangka panjangnya, kita ingin menumbuhkan budaya gerak (physical activity) pada diri siswa sejak dini. Ketika anak-anak terbiasa berolahraga dengan metode yang benar, tingkat kebugaran nasional akan melonjak. Selanjutnya bibit atlet berbakat akan lahir dari sekolah dasar,” pungkas Yudha.
Inovasi digital buatan akademisi UPI ini langsung mendapat respons positif dari jajaran Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat. Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Disdik KBB, Wika Karina Damayanti, menyebut pelatihan ini sebagai peluang emas bagi guru olahraga di wilayahnya untuk naik kelas.
“Di tengah gempuran disrupsi teknologi serta kebijakan pengetatan anggaran daerah, kehadiran aplikasi mandiri dan pelatihan gratis ini sangat membantu kami. Kami menginstruksikan para guru yang hadir untuk menyerap ilmu ini secara maksimal dan segera beradaptasi. Inovasi ini secara langsung menaikkan derajat profesionalisme tenaga pendidik di Bandung Barat,” kata Karina.
(Ageng)



