BOGOR,FOKUSJabar.id: Kuliner tradisional kembali memamerkan taji dan daya pikatnya di tengah gempuran ketat makanan modern yang silih berganti merajai lini masa media sosial. Salah satu hidangan legendaris yang kini sukses mencuri perhatian publik adalah cungkring, penganan khas Bogor yang menyimpan sejarah panjang dan tetap eksis melintasi zaman.
Dalam beberapa bulan terakhir, nama cungkring kian masif menghiasi rupa-rupa konten wisata dan jagat kuliner di internet. Gelombang ulasan positif dari para pelancong, kreator konten, hingga penggiat kuliner berhasil memantik rasa penasaran masyarakat luas, terutama generasi muda yang haus akan petualangan cita rasa autentik daerah.
Baca Juga: Sertifikat Kompetensi Gratis untuk Peserta Magang Nasional, Pendaftaran Dibuka Juni 2026
Fenomena kebangkitan ini membuktikan bahwa makanan warisan leluhur selalu memiliki ruang khusus di hati konsumen, walau tren konsumsi masyarakat terus bergeser. Meski pasar kuliner kekinian menawarkan banyak opsi baru, hidangan tradisional seperti cungkring tetap sanggup mengikat minat pelanggan berkat keunikan rasa dan nilai budaya yang melekat kuat di dalamnya.
Cungkring sendiri memegang identitas sebagai salah satu ikon kuliner paling melekat dengan Kota Hujan. Para penjual meracik hidangan ini menggunakan rupa-rupa bagian dari sapi, mulai dari kikil, kulit, urat, hingga tulang muda bagian kepala.
Dapur produksi wajib merebus bahan-bahan tersebut dalam durasi yang cukup lama hingga menghasilkan tekstur yang sangat empuk. Langkah berikutnya, sang penjual akan memotong-motong bahan kenyal tersebut, menyajikannya bersama potongan lontong atau ketupat, lalu menyiramnya dengan bumbu kacang kental yang gurih.
Bagi mata awam, tampilan visual cungkring sekilas menyerupai beberapa varian makanan berbumbu kacang pada umumnya. Namun, keputusan menggunakan kikil dan area kaki sapi sebagai aktor utama menciptakan karakter rasa serta sensasi gigitan yang sangat kontras. Perpaduan sempurna antara kenyalnya kikil dengan gurihnya kuah kacang menjadi alasan utama mengapa kuliner ini tidak pernah kehabisan penggemar setia.
Cungkring Pak Jumat Suryakencana: Penjaga Resep Autentik Sejak 1975
Di balik keunikan namanya, masyarakat Bogor menyimpan beberapa versi cerita mengenai asal-usul istilah cungkring. Versi pertama menyebut kata tersebut berakar dari bahasa Sund. Kata yang merujuk pada postur kurus atau ramping, sebagai gambaran bentuk potongan kikil yang tipis memanjang. Sementara versi kedua mengaitkan nama unik ini dengan akronim jenaka, yakni gabungan kata “cungur” (biwir sapi) dan “keringan”.
Saat membahas kuliner ini, ingatan kolektif pencinta makanan pasti langsung tertuju pada kedai Cungkring Pak Jumat. Unit usaha kuliner yang memadati kawasan pecinan Jalan Suryakencana, Bogor, ini sudah melayani pembeli sejak tahun 1975 dan tetap teguh mempertahankan resep turun-temurun dari generasi pendiri.
Konsistensi menjaga keaslian rasa menjadi kunci utama yang membuat kedai legendaris ini mampu bertahan hingga setengah abad. Jajaran kru dapur tidak pernah memotong kompas proses pengolahan, mereka tetap telaten merebus kikil dan urat sapi selama berjam-jam demi mengunci keempukan yang pas. Saat pesanan datang, mereka memadukan bahan utama tersebut dengan lontong, tempe goreng kering, siraman bumbu kacang, kecap manis, serta sambal cabai rawit sesuai selera penikmatnya.
Arus balik popularitas cungkring ini tentu mengutang budi pada keaktifan jagat media sosial. Berkat platform digital tersebut, profil kuliner tradisional ini bisa menyapa kembali generasi baru secara lebih luas. Banyak pelancong yang sengaja memacu kendaraan menuju Bogor hanya demi berburu sepiring cungkring setelah menyaksikan video rekomendasi yang berseliweran di internet.
Algoritma Digital
Selain faktor algoritma digital, pergeseran minat masyarakat yang kini cenderung memburu kuliner bernilai historis juga ikut mendongkrak penjualan. Hari ini, konsumen tidak sekadar mencari makanan yang viral sesaat, melainkan juga mendambakan sajian yang mengantongi riwayat sejarah panjang. Serta mencerminkan jati diri sebuah daerah.
Kini, efek domino dari popularitas cungkring tidak hanya menguntungkan ekosistem warga lokal Bogor. Sejumlah pedagang mengaku kerap melayani rombongan pembeli yang sengaja datang dari wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, hingga Sukabumi. Realitas ini menegaskan bahwa cungkring kini telah naik kelas dari sekadar makanan sarapan lokal menjadi magnet wisata kuliner utama. Makanan ini sukses memperkenalkan kekayaan budaya tatar Pasundan ke panggung nasional.
(Jingga Sonjaya)



