TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Gelanggang Olahraga (GOR) Sukapura di Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, kembali menyedot perhatian publik. Ratusan pencinta olahraga dan warga dari berbagai sudut kota memadati tribun untuk menyaksikan para atlet bela diri berlaga dalam kejuaraan bergengsi Tasikmalaya Open Tournament 2026.
Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Kota Tasikmalaya menginisiasi turnamen yang mempertemukan ratusan karateka dari berbagai daerah ini. Kompetisi adu ketangkasan tersebut akan berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 16 hingga 17 Mei 2026.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih Tasikmalaya Siap Stabilkan Harga Pangan Desa
Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, membuka langsung kejuaraan ini, Sabtu (16/5/2026). Kehadiran Diky bersama Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya Deddy Mulyana dan Ketua FORKI Yuki Wahyuki mendapat sambutan meriah dari para atlet serta penonton.
Dalam sambutannya, Diky Candra menegaskan bahwa turnamen terbuka ini membuktikan posisi Kota Tasikmalaya sebagai episentrum event olahraga, baik di skala regional maupun nasional.
“Kami menyambut baik dan mengapresiasi kerja keras FORKI. Event ini tidak hanya mengasah prestasi atlet, tetapi juga langsung menggerakkan roda perekonomian masyarakat Tasikmalaya,” ujar Diky Candra.
Efek Multiplier Penggerak Ekonomi Daerah
Diky menjelaskan bahwa kehadiran ratusan atlet dan penonton dari luar daerah secara otomatis meningkatkan aktivitas ekonomi lokal secara masif.
“Para pendatang dari luar daerah akan menginap di hotel, makan di restoran, berburu kuliner, hingga menggunakan moda transportasi lokal. Rantai aktivitas ini menghidupkan sektor ekonomi kreatif kita,” paparnya.
Pemerintah Kota Tasikmalaya berkomitmen untuk terus mendukung penyelenggaraan agenda olahraga serupa. Kompetisi yang rutin diyakini mampu mematangkan mental bertanding para atlet lokal sekaligus mendongkrak prestasi daerah.
Wadah Baru Pengganti O2SN
Ketua FORKI Kota Tasikmalaya, Yuki Wahyuki, merinci sebanyak 396 atlet yang mewakili enam perguruan karate di Tasikmalaya mengikuti turnamen perdana ini. Sejumlah kontingen dari wilayah Priangan Timur, Bandung, hingga Jakarta turut ambil bagian memeriahkan kejuaraan.
Yuki menyebut tingginya antusiasme peserta menandakan bahwa olahraga karate memiliki basis massa yang kuat di Tasikmalaya. Pihaknya menargetkan kejuaraan terbuka ini dapat bergulir secara rutin sebanyak dua kali dalam setahun.
Langkah ini sekaligus merespons kebijakan penghapusan cabang olahraga karate dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di tingkat sekolah. Penghapusan tersebut sempat membuat para pelajar kehilangan panggung kompetisi resmi.
“Kami ingin mengisi kekosongan wadah kompetisi tersebut. FORKI menggelar kejuaraan rutin ini agar proses pembinaan karate di kalangan pelajar tidak terputus dan tetap berkelanjutan,” tegas Yuki.
Menguji Mental dan Karakter Atlet
Panitia membagi kompetisi ke dalam beberapa kategori agar pertandingan berjalan adil dan berjenjang berdasarkan usia serta tingkat sabuk, meliputi:
- Kata Perorangan & Beregu
- Kumite Perorangan & Beregu
Para pelatih menyambut positif terobosan FORKI ini. Jajang, pelatih dari perguruan Gojukai Tasikmalaya, menilai turnamen terbuka memberikan jam terbang yang sangat berharga bagi perkembangan atlet binaannya.
“Di sini anak-anak belajar mengasah mental bertanding saat menghadapi lawan dari luar daerah. Ini modal penting untuk membentuk karakter, jam terbang, serta mengevaluasi teknik bertanding mereka,” kata Jajang.
Gemuruh sorak penonton, instruksi pelatih, dan ketegasan wasit di dalam GOR Sukapura Dadaha menghidupkan atmosfer kompetisi yang menjunjung tinggi sportivitas. Ke depan, FORKI berencana menggandeng KONI dan Disporabudpar untuk memperluas jangkauan event ini hingga ke tingkat Provinsi Jawa Barat.
(Seda)


