BANDUNG,FOKUSJabar.id: Bandung selalu punya cerita. Bukan hanya tentang riuhnya jalanan atau dinginnya udara pagi, tapi juga tentang orang-orang yang berjuang di dalamnya.
Di momen Hari Kartini, kisah-kisah seperti ini terasa semakin dekat tentang perempuan yang terus melangkah, meski hidup tak selalu mudah.
Salah satu cerita itu datang dari Teh Mira. Di antara padatnya aktivitas Kota Bandung, dia menjalani peran ganda: sebagai ibu sekaligus pencari nafkah. Sebagai single mom dengan tiga anak, hari-harinya dipenuhi tanggung jawab yang tak ringan. Namun, dari balik kemudi, dia menunjukkan bahwa perempuan bisa tetap berdiri kuat dan mandiri.
Baca Juga: Inilah Tujuan Program Sasapu Bandung
Sebelum menjalani pekerjaannya saat ini, kehidupan Teh Mira sempat berada di fase yang cukup sulit. Dia mengandalkan penghasilan dari jasa antar-jemput anak sekolah di sekitar rumah. Sayangnya, pemasukan tersebut belum cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
“Kadang biaya sekolah anak sempat tertunda, cicilan motor juga begitu,” kenangnya, Rabu (22/4/2026).
Situasi itu membuatnya terus mencari peluang baru. Hingga akhirnya, Mira menemukan jalan lain yang perlahan mengubah kondisinya. Sejak akhir 2024, dia mulai merasakan perubahan yang nyata. Penghasilannya menjadi lebih stabil, kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, dan beban yang dulu menumpuk kini mulai teratasi.
Harapan Baru untuk Masa Depan
Kini, dia bisa menjalani hari dengan lebih tenang. Bahkan, ada harapan baru untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak dan masa depan yang lebih pasti untuk anak-anaknya.
Namun perjalanan itu tentu tidak tanpa tantangan. Bekerja di jalanan sebagai perempuan menghadirkan kekhawatiran tersendiri. Rasa tidak aman hingga pandangan miring dari lingkungan sempat dia rasakan. Tapi bagi Mira, semua itu tidak sebanding dengan tekadnya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik.
“Perempuan itu harus kuat dan berani. Kita juga bisa mandiri, apalagi untuk keluarga,” katanya.
Yang membuatnya tetap bertahan adalah fleksibilitas dalam bekerja. Mira bisa menyesuaikan waktu dengan rutinitas anak-anaknya, mengantar sekolah di pagi hari, kembali bekerja, lalu berhenti sejenak untuk menjemput mereka. Ritme ini memberinya ruang untuk tetap hadir sebagai ibu, tanpa harus mengorbankan penghasilan.
Perjuangan seorang Kartini
Selain itu, sistem kerja yang memberi kebebasan dalam memilih aktivitas harian juga menjadi nilai tersendiri. Dia bisa menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi di lapangan, tanpa tekanan berlebihan.
Dari sisi penghasilan, Mira merasakan dampak yang cukup signifikan. Dengan skema yang lebih ringan, hasil kerja yang ia bawa pulang terasa lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Yang penting sekarang cukup, bahkan bisa lebih terencana,” kata dia.
Bagi Teh Mira, Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan. Dia memaknainya sebagai pengingat bahwa perempuan punya hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri termasuk berani mengambil keputusan dan keluar dari zona nyaman.
Pesannya sederhana, tapi kuat: tetap semangat dan jangan takut mencoba hal baru.
Meski tidak selalu terlihat besar, kisah seperti ini sangat bermakna. Di balik aktivitas sehari-hari, ada perjuangan yang nyata. Di balik kemudi, ada harapan yang terus dijaga.
(LIN)



