JAKARTA, FOKUSJabar.id: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut, fenomena El Nino Godzilla mengancam stabilitas iklim Indonesia pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Pergeseran pusat pembentukan awan ke Samudra Pasifik ini diprediksi akan memicu kekeringan ekstrem dan penurunan curah hujan drastis di sejumlah wilayah tanah air.
BACA JUGA:
Mengenal Fenomena El Nino, Penyebab Cuaca Ekstrim Dunia
BRIN juga mencatat, nama monster ini kembali muncul karena ada kemungkinan gabungan beberapa fenomena iklim yang memperluas dampak kekeringan.
Fenomena tersebut di sampaikan sebagai peringatan dini agar publik bersiap, bukan untuk memicu kepanikan.
Berdasarkan laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) per 12 Maret 2026, kondisi iklim saat ini masih normal.
Namun, mengutip penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) GAW Bariri, peluang munculnya El Nino melonjak hingga 62 persen pada Juni hingga Agustus 2026.
Angin pembawa uap air akan melemah. Sehingga perairan Indonesia mendingin dan hujan makin jarang turun.
Mengutip tribunsumsel.com, BRIN memprediksi sejumlah wilayah akan mengalami kemarau lebih kering dari biasanya. Terutama pada periode April hingga Juli 2026.
BACA JUGA:
Badai El Nino: Fenomena Cuaca Ekstrem yang Mengguncang Bumi
Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain:
- Pulau Jawa
- Bali
- Nusa Tenggara
Kondisi ini berpotensi mengganggu sektor pertanian. Terutama di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa yang menjadi salah satu lumbung pangan nasional.
Selain itu, kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.
(Bambang Fouristian)



