CIAMIS, FOKUSJabar.id: Momentum mieling Galuh 1414 tahun bersamaan dengan hari raya Idul Fitri 1447 Hijriyah. Meski di peringati secara sederhana, namun sangat khidmat dan memiliki nilai pesan yang sangat mendalam.
Demikian di katakan Akademisi sekaligus penggiat budaya Kabupaten Ciamis, Ilham Purwa.
BACA JUGA:
Tokoh Budaya dan Kabuyutan Hadiri Milangkala Galuh 1414
Menurut Dia, dalam sejarah Kerajaan Galuh terdapat momentum di mana Dus tokoh Raja Galuh yaitu Sanjaya dengan Ciungwanara menyepakati perjanjian damai Galuh di tahun 739 Masehi.
“Dengan adanya kesepakatan perdamaian tersebut, untuk mengenangnya maka di tempatkanlah gong perdamaian di Situs Karangkamulyan sebagai simbul perdamaian,” ungkapnya.
Ilham menuturkan, dalam maklumat kesepakatan perdamaian kedua Raja, terdapat 10 poin perjanjian yang di sepakati. Yakni:
- Penghentian permusuhan (Mawasana Panyatrawanan)
- Kerjasama (Atuntuna Tangan)
- Saling Membantu (Paras Paropakara)
- Persahabatan (Mitra Samaya)
- Larangan Balas dendam (Paribhaksa)
- Penyelesaian Damai ( Telasakeun Apakenak)
- Silaturahmi dan Musyawarah (Mapulang Rahi)
- Persaudaraan (Kaharep Saduluran)
- Larangan saling menyerang (Parapura)
- Penghormatan hak orang lain (Maryada Sakengsi Tutu).
“Momentum ini sangat pas dengan keadaan sekarang. Yakni secara isu global sedang dilanda konflik di sejumlah negara,” katanya.
BACA JUGA:
UPTD Damkar Ciamis Evakuasi Kucing dari Atas Pohon Trembesi
Ilham melanjutkan, dalam Mieling Galuh bisa menyampaikan pesan, doa dan harapan perdamaian untuk Tatar Galuh khususnya.
“Mudah-mudahan momen Milangkala Galuh yang membawa tema Gong Perdamaian Dunia (World Peace) menjadikan tonggak sejarah terjadinya perdamaian di dunia,” ungkapnya.
(Husen Maharaja)



