spot_imgspot_img
Jumat 20 Februari 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Muhammad Farhan Setahun Memimpin Kota Bandung

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menjadi fase penataan fondasi pembangunan melalui visi Bandung Utama (Unggul, Terbuka, Amanah, Maju dan Agamis).

Tahun pertama di fokuskan pada pembenahan tata kelola, penguatan data kewilayahan serta percepatan intervensi berbasis kebutuhan riil warga.

Memasuki tahun kedua, menjadi momentum memperkuat implementasi dan memperluas hasil pembangunan hingga tingkat kewilayahan.

Baca Juga: Anggaran Jalan Rp300 M, Wali Kota Bandung Cegah Korupsi

“Kota Bandung terus bergerak dari perencanaan menuju pelaksanaan, dari kebijakan menuju aksi nyata. Setiap langkah pembangunan kami dasarkan pada data. Dengan begitu, kebijakan yang di ambil benar-benar menjawab kondisi riil kota,” kata Farhan, Jumat (20/2/2026).

Di awal masa kepemimpinannya, Kota Bandung menghadapi  sejumlah tantangan mendasar. Di antaranya Inflasi berada di angka 2,69 persen, lebih dari 18.000 titik Penerangan Jalan Umum (PJU) dalam kondisi rusak, sekitar 112.000 warga menganggur serta 27,2 persen rumah tangga belum memiliki septic tank standar.

Persoalan sampah dan sanitasi menjadi isu strategis yang menuntut penanganan sistematis dan berkelanjutan. Sebagai respons, Pemkot Bandung membangun fondasi kebijakan berbasis data.

Melalui program Layanan Catatan Informasi RW (LACI RW). Survei menjangkau hampir 9.900 RT di seluruh kota, menjadikan RT dan RW sebagai sumber informasi utama.

Data sosial, infrastruktur, lingkungan hingga kerentanan warga di himpun sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih presisi.

Barbasis Data Makro dan Mikro

Kerangka pembangunan di susun berbasis data makro dan mikro, dengan lima indikator utama. Yakni sosial dan demografi, infrastruktur, lingkungan dan kesehatan, ekonomi, serta kelembagaan.

“Dari sinilah pembangunan Kota Bandung di mulai, bukan dari asumsi, melainkan dari data yang jujur dan kenyataan yang di hadapi warga setiap hari,” katanya.

Implementasi pembangunan di perkuat melalui Program Prakarsa Bandung Utama yang menjangkau 151 RW di 30 kecamatan dengan lebih dari 1.000 kegiatan dan realisasi anggaran mencapai 96 persen.

Selain itu, sebanyak 697 RW teridentifikasi aktif menjadi penggerak pembangunan lokal, di perkuat dengan aktivasi kembali siskamling sebagai simpul keamanan dan kepedulian sosial.

Dari sisi ekonomi, analisis desil menunjukkan pertumbuhan tertinggi sebesar 4.994 keluarga baru di desil 6–10 pada periode September 2025–Februari 2026.

Di bidang ketenagakerjaan, penempatan kerja sepanjang 2025 mencapai 5.207 orang melalui berbagai skema, termasuk PKWT, job fair, magang, dan penempatan internasional.

Capaian ini di perkuat dengan raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2024, yang menunjukkan penguatan akuntabilitas dan tata kelola.

Memasuki tahun kedua, Farhan menyatakan, fokus utama adalah memperluas dampak pembangunan melalui tiga pilar kebijakan.

“Satu tahun pertama adalah fase menata fondasi, dan satu tahun ke depan adalah fase penguatan dan perluasan dampak,” ujarnya.

Pilar pertama adalah pembangunan infrastruktur strategis dengan target 100 persen ODF dan akses air aman, zero slum area, reduksi titik genangan 40 persen, serta kemantapan jalan 95 persen.

Stimulus Ekonomi

Infrastruktur juga di rancang sebagai stimulus ekonomi melalui skema padat karya dan penguatan rantai pasok lokal.

Pilar kedua adalah pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan menekan ketimpangan (gini ratio).

Baca Juga: Pajak Restoran Motor Kenaikan PAD Kota Bandung

Transformasi UMKM, penguatan ekosistem pariwisata, serta inklusivitas ekonomi menjadi strategi utama agar pertumbuhan ekonomi lebih merata dan berkelanjutan.

Pilar ketiga berfokus pada ketenagakerjaan dan mobilitas sosial dengan target 5.000 sertifikasi kompetensi per tahun, tingkat penyerapan 92 persen, serta perlindungan 100 persen bagi pekerja rentan.

Ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif di yakini mampu mempercepat mobilitas sosial vertikal warga Bandung.

“Satu tahun pertama adalah fase menata fondasi, dan satu tahun ke depan adalah fase penguatan dan perluasan dampak,”pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru