spot_imgspot_img
Minggu 8 November 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pacuan Kuda Porprov Jabar di Pangandaran Sepi Penonton, Pedagang Hanya Berharap Balik Modal

PANGANDARAN, OKUSJabar.id: Gelaran pacuan kuda Porprov XV Jawa Barat 2026 di Lapangan Pacuan Kuda Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, sepi penonton.

Arena pertandingan yang biasa menampung ribuan pengunjung justru tampak lengang. Area tribun utama hingga lapak para pedagang di sepanjang jalan menuju arena terlihat sepi pembeli, Minggu (8/11/2026).

Baca Juga: KORMI Jabar Dorong Pangandaran Onthel Challenge Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

Pantauan di lokasi menunjukkan mayoritas pengunjung yang hadir hanya rombongan atlet, jajaran ofisial, serta pendukung dari masing-masing kontingen kabupaten dan kota. Warga umum yang menonton pertandingan diperkirakan hanya sekitar 100 orang, termasuk kelompok pelajar.

Kondisi ini memicu sorotan tajam terhadap kesiapan panitia penyelenggara, terutama sektor promosi dan penyebaran informasi acara kepada masyarakat luas.

Warga setempat, Handi (37), menilai ajang pacuan kuda kali ini merupakan yang paling sepi daripada gelaran tahun-tahun sebelumnya.

Ia membandingkan dengan agenda pacuan kuda hiburan rakyat saat momen Lebaran yang selalu padat penonton meski menggunakan fasilitas sederhana.

“Namun meskipun kegiatan tidak mewah dan murni hiburan rakyat, justru penonton banyak. Dulu itu tempat start saja pakai tali rafia, tapi ramai,” kata Handi, Minggu (8/11/2026).

Handi mengingat ribuan warga dari berbagai daerah biasanya memadati area pacuan kuda Legokjawa.

“Kalau peserta dari kabupaten/kota memang banyak. Tapi kalau penduduk lokal malah tidak banyak. Kalau dilihat secara kasat mata, mungkin hanya sekitar 15 orang,” ujarnyanya.

Soroti Kinerja Panitia dan Durasi Balapan

Handi menduga persiapan panitia yang kurang maksimal menjadi pemicu utama sepinya pengunjung. Panitia dinilai kurang memperhatikan penataan kebersihan kawasan serta gema promosi acara.

Panitia biasanya sudah mematangkan persiapan empat hari sebelum lomba, mulai dari membersihkan area pacuan hingga menyebarkan warta ajang ke warga.

“Kalau mau ada balap kuda, biasanya empat hari sebelumnya panitia sudah melakukan persiapan. Kemudian penyebaran informasi juga dilakukan. Ini kan tidak ada, sehingga kesannya seperti tidak akan ada event balap kuda,” jelas Handi.

Selain masalah promosi, Handi menyoroti minimnya jumlah race pertandingan. Panitia hanya menggelar sekitar empat race per hari, sehingga total pertandingan hanya delapan race selama dua hari penyelenggaraan, 7-8 November 2026.

Jumlah balapan yang minim ini membuat durasi acara terasa sangat singkat dan kurang memuaskan penonton yang hadir.

“Biasanya bisa sampai 10 race ke atas. Kalau sekarang hanya sampai sekitar pukul 11. Meskipun dilaksanakan dua hari, jumlah race-nya tetap sedikit,” ungkapnya.

Omzet Pedagang Kecil Anjlok Drastis

Sepinya pengunjung di arena balap memberikan dampak buruk secara langsung bagi para pedagang kecil di sekitar arena Legokjawa.

Salah seorang pedagang, Ikar, mengeluhkan barang dagangannya yang sulit laku karena minimnya pembeli yang lalu-lalang di sekitar lokasi.

“Tapi sekarang sepi. Hanya bisa balik modal saja sudah Alhamdulillah. Kalau dulu sampai kewalahan melayani pembeli,” tutur Ikar.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru