spot_imgspot_img
Minggu 18 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Provokasi Oknum Penonton Pemicu Kericuhan di Stadion Galuh

CIAMIS,FOKUSjabar.id: Insiden kericuhan mewarnai pertandingan PSGC Ciamis melawan PSIS Semarang di Stadion Galuh, Kabupaten Ciamis. Laga pekan keenam Pegadaian Championship 2026/2027 ini berlangsung, Sabtu (17/10/2026) malam.

Keributan pecah pada babak kedua sehingga memicu kepanikan luar biasa di area tribun penonton.

Baca Juga: Heri Kiswanto Puji Perkembangan Mental Bertanding PSGC Ciamis

Seorang saksi mata asal Cijeungjing, Encep, menceritakan suasana awal laga sebenarnya berjalan sangat kondusif.

Kericuhan bermula sekitar menit ke-65 akibat tindakan provokasi oknum penonton yang melontarkan kata-kata kasar.

“Awalnya Semarang dan Ciamis adem, santai, saling menikmati pertandingan. Teriakan-teriakan masih dianggap angin lewat karena kedua pihak tidak merespons berlebihan,” kata Encep.

Provokasi tersebut akhirnya memicu gesekan fisik antarkelompok penonton di tribun.

Beberapa Penonton Luka dan Pingsan Akibat Berdesakan

Encep menegaskan insiden ini tidak mencerminkan sikap seluruh suporter PSGC Ciamis maupun PSIS Semarang.

Ia bergegas memandu anak-anak serta kaum wanita menuju pintu keluar demi menghindari dampak kericuhan.

Sebanyak dua hingga tiga orang pingsan akibat berdesakan saat menyelamatkan diri. Beberapa penonton juga mengalami luka di wajah.

“Saya tidak menyebut mereka sebagai suporter Ciamis, tetapi penonton Ciamis, karena yang terlibat gesekan itu oknum. Yang paling saya khawatirkan justru banyak anak kecil yang ketakutan atas kejadian tersebut,” ujar Encep.

Petugas medis langsung membawa para korban luka keluar stadion untuk mendapatkan perawatan.

Situasi tribun kembali kondusif usai aparat kepolisian serta perwakilan suporter melakukan koordinasi cepat di lapangan.

Penonton Desak Panpel Evaluasi Total Penempatan Suporter

Encep menyoroti kebijakan panitia pelaksana (panpel) yang menempatkan suporter tim tamu di tribun selatan tanpa sekat pembatas.

Ketiadaan jarak aman antara kedua kelompok penonton memperbesar potensi gesekan saat muncul provokasi.

“Yang saya sesalkan, ketika suporter away pindah ke tribun selatan home, panpel tidak berada di tengah-tengah kedua kelompok penonton untuk memberikan sekat atau jarak. Setelah kejadian, baru panpel berada di antara mereka,” tegas Encep.

Panpel menjelaskan keputusan penempatan tersebut berkaitan dengan dinamika internal antar-elemen suporter tim tamu.

Encep mendesak panpel melakukan evaluasi total terkait sistem pengamanan serta penataan tribun penonton pada laga-laga mendatang.

Ia berharap keselamatan keluarga serta anak-anak tetap menjadi prioritas utama penyelenggaraan pertandingan sepak bola.

(Mia)

spot_img

Berita Terbaru