PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Lebih dari 100 mahasiswa PSDKU Universitas Padjadjaran (Unpad) Pangandaran mengikuti latihan kesiapsiagaan bencana. Kegiatan simulasi gempa megathrust serta kebakaran ini berlangsung, Sabtu (17/10/2026).
Skenario latihan bermula dari guncangan gempa berkekuatan 5,0 magnitudo yang berlanjut 7,0 magnitudo. Kebakaran hebat menyusul hingga membunyikan sirene tanda bahaya di lingkungan kampus.
Baca Juga: Penyebab Wilayah Sumatra dan Kalimantan Alami Pencemaran Udara
Para mahasiswa berhamburan mencari titik aman. Petugas memperagakan evakuasi korban yang terjebak reruntuhan di lantai dua gedung kampus.
Tim kesehatan melakukan evakuasi darurat bersama jajaran TNI, Polri, BPBD, Damkar, serta warga sekitar.
Petugas memilah para korban berdasarkan triase kegawatdaruratan medis. Tim memberikan prioritas penuh bagi korban kategori merah dan kuning.
Ketua Prodi Sarjana Keperawatan PSDKU Unpad Pangandaran, Irman Somantri, menjelaskan simulasi ini wujud praktik mata kuliah Keperawatan Bencana.
“Kalau secara kuliah kan kadang-kadang hanya mahasiswa tahu teori, tapi bagaimana pelaksanaannya? Untuk penanganan bencana itu butuh multisektor yang dilibatkan,” kata Irman pada Sabtu (17/10/2026).
Simulasi Bencana Asah Soft Skill dan Kesiapan Lulusan
Irman menekankan simulasi ini melatih koordinasi lintas sektor, pertolongan pertama, serta pengambilan keputusan cepat di lapangan.
Pihaknya mencetak lulusan perawat yang mengantongi kompetensi siap pakai di tempat kerja.
“Mahasiswa kita itu secara kompetensi siap pakai, bukan siap latih. Jadi, kalau siap latih, ketika lulus harus dilatih lagi. Kalau mahasiswa kita, insyaallah mereka kerja di mana pun siap pakai,” tegas Irman.
Irman menyebut keterampilan memilah korban (triase) menjadi kualifikasi wajib bagi calon perawat di lokasi bencana.
“Perawat itu menjadi tonggak pertama di lapangan. Dengan mendapat pelatihan seperti itu, mereka paham, maka tindakan menjadi lebih efektif,” lanjutnya.
Unpad Pangandaran Fokus Empat Aspek Utama Penanganan Bencana
Koordinator Mata Kuliah Keperawatan Bencana, Doni Nurhamsyah, M.Kep., menyampaikan simulasi ini menjadi agenda tahunan kampus.
Doni menjelaskan latihan berfokus pada empat pilar utama: komando, koordinasi, komunikasi, serta pengendalian.
“Harapan kami, kegiatan seperti ini tidak hanya sebatas simulasi. Ketika memang terjadi bencana, warga ataupun mahasiswa juga siap untuk melaksanakan penanganan secara nyata,” kata Doni.
Warga Desa Cintaratu, Didi Sutardi, menyambut positif keterlibatan masyarakat dalam simulasi kebencanaan ini.
“Kegiatannya bagus, warga jadi tahu caranya mengahadapi bencana dan penanganannya harus seperti apa,” kata Didi.
(Sajidin)



