BOGOR,FOKUSJabar.id: Petugas gabungan terus berjuang memadamkan kebakaran hebat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor. Kebakaran meluas hingga mencakup lahan seluas 42 hektare dan memasuki hari ketiga penanganan.
Musibah ini berawal pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Api pertama kali muncul dari perkebunan warga sebelum akhirnya merambat cepat ke area timbunan sampah.
Baca Juga: MUI Kabupaten Bekasi Bersama 25 Ormas Sampaikan Pernyataan Sikap Terkait LGBTQ
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin menjelaskan bahwa tiupan angin kencang di lokasi menjadi penghambat utama proses pemadaman.
“Memang faktor yang memengaruhi itu cuaca dan angin yang memang cukup kencang, sehingga sangat berpotensi mudah menyala kembali api yang sudah padam,” ujar Jenal saat meninjau lokasi, Rabu (9/9/2026).
Tantangan Medan dan Keterbatasan Pasokan Air
Selain faktor cuaca, tim gabungan menghadapi kendala minimnya pasokan air dan terbatasnya jarak pandang akibat asap pekat.
“Stok air kita memang ini yang cukup menjadi kendala dan keterbatasan penglihatan, karena jarak pandang sangat terbatas sehingga alat berat pun perlu hati-hati dalam melangkah,” kata Jenal.
Petugas juga mewaspadai kontur TPA Galuga yang berbukit dan labil. Risikolongsor dapat terjadi sewaktu-waktu jika alat berat salah mengurai gundukan sampah.
“Kontur yang memang berbukit dan bawahnya bisa jadi ada yang kosong dan khawatir longsor. Jadi kami sangat berhati-hati dan tentu terus berupaya untuk maksimal dengan potensi yang ada,” lanjut Jenal.
Guna mencegah api meluas, tim gabungan membuat lerengan sebagai batas proteksi. Petugas mengerahkan dump truck dan ekskavator untuk membolak-balik timbunan sampah sambil menyiramkan air ke bara bagian dalam.
“Metode yang dilakukan oleh Pemkot dan jajaran, relawan, kemudian dari kabupaten juga, kita membuat lerengan agar si api tidak menyebar dan kita lokalisir di satu titik, tidak menyebar ke hamparan tempat pembuangan sampah yang kita miliki,” jelas Jenal.
Bantuan Helikopter TNI AU dan Alat Monitoring Udara
Upaya pemadaman darat mendapat dukungan penuh dari udara. Helikopter TNI AU Lanud Atang Sendjaja menerjunkan operasi water bombing menggunakan Bambi Bucket berkapasitas 2.950 liter. Helikopter tersebut telah melancarkan 10 sorti penyiraman udara.
Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memasang mobile monitoring system untuk memantau tingkat polusi udara di pemukiman sekitar.
“KLH akan taruh mobile sistem monitoring kualitas udara disini, sehingga nanti kita tau tingkat kualitas udara disini berada di tingkat apa, agar kepala daerah bisa himbau warga,” jelas Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono.
Diaz mengapresiasi kerja cepat tim gabungan dan memperkirakan proses pemadaman selesai total dalam dua hari ke depan.
“Semoga (upaya pemadaman) selesai dalam 1-2 hari, tadi kita sudah lihat penanganannya sangat cepat, dari pihak Kota dan juga Kabupaten Bogor,” ujar Diaz.
Saat ini, Pemkot Bogor mulai membuka kembali aktivitas armada pengangkut sampah ke TPA Galuga secara bertahap dan bergantian.
(Jingga Sonjaya)



