JAKARTA, FOKUSJabar.id: Presiden Prabowo Subianto menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghadapi bencana.
Salah satu rencana, mengubah fungsi kapal induk asal Italia yang akan masuk ke jajaran TNI Angkatan Laut agar dapat mendukung operasi helikopter dan drone.
BACA JUGA:
458 H Bukit Soeharto Dekat IKN Terbakar, BNPB Kerahkan Water Bombing
Rencana tersebut di sampaikan Prabowo saat memimpin Rapat Terbatas (Ratas) mengenai perkembangan penanganan bencana melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Pemerintah membahas penguatan kesiapsiagaan dan mitigasi agar penanganan bencana tidak hanya di lakukan setelah keadaan darurat terjadi.
Penguatan armada udara menjadi salah satu perhatian utama. Pemerintah berencana menyiapkan lebih banyak helikopter, pesawat untuk mendukung modifikasi cuaca serta drone yang dapat di gunakan dalam operasi pemadaman.
Kapal induk yang akan di peroleh dari Italia nantinya di proyeksikan menjadi salah satu sarana pendukung untuk mengerahkan aset udara tersebut ke wilayah yang membutuhkan.
Prabowo menjelaskan, kapal asal Italia itu tidak akan langsung di gunakan dalam bentuk aslinya.
Setelah masuk ke jajaran TNI AL, kapal tersebut akan menjalani proses rekondisi dan penyesuaian agar dapat menjalankan fungsi yang di butuhkan Indonesia.
“Alhamdulillah sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk ke jajaran Angkatan Laut. Itu kita akan refurbish, kita ubah untuk menjadi kapal induk helikopter dan untuk drone,” kata Prabowo Subianto.
Kapal tersebut nantinya di proyeksikan mampu membawa hingga 10 helikopter kelas menengah.
Prabowo memberikan gambaran penggunaan helikopter seperti Black Hawk dan Mi-17 yang dapat membawa sekitar 4 hingga 5 ton air.
Kemampuan itu di nilai dapat di manfaatkan untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan dari udara. Terutama ketika titik api berada di lokasi yang sulit di jangkau melalui jalur darat.
“Jadi kalau kita punya 10 helikopter bisa segera merapat ke titik api yang terbanyak. Ini juga akan sangat membantu respons kita,” ujar Prabowo.
Selain mengandalkan helikopter berawak, pemerintah juga di arahkan untuk mengembangkan kemampuan drone dalam penanganan kebakaran.
Drone dengan kapasitas membawa air dapat di gunakan untuk menjangkau titik api dan melakukan penyiraman dari udara.
“Kita harus mengadakan drone-drone yang bisa melempar air,” imbuhnya.
Prabowo menyinggung adanya drone yang dapat membawa sekitar 50 kilogram air. Penggunaan teknologi nirawak tersebut di harapkan dapat menjadi tambahan kemampuan pemadaman. Terutama ketika di perlukan pengerahan aset udara dalam jumlah lebih banyak.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa teknologi drone akan di tempatkan sebagai bagian dari sistem penanganan bencana, bukan hanya untuk kebutuhan pemantauan.
BACA JUGA:
Badan Geologi Ungkap Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Berakhir
Penguatan sarana penanggulangan bencana juga mencakup peralatan di darat.
Prabowo meminta pemerintah memperbanyak helikopter, pompa air, kendaraan pemadam kebakaran serta menyiapkan ekskavator berukuran kecil di desa-desa yang memiliki riwayat kebakaran hutan dan lahan.
“Lebih banyak helikopter, pompa air dan lebih banyak pemadam kebakaran lebih baik. Jadi kita siap sebelum kejadian.” tegasnya.
Untuk merealisasikan kebutuhan tersebut, Menteri Sekretaris Negara di minta berkoordinasi dengan Menteri Keuangan dan Menteri PPN/Kepala Bappenas.
Strategi mitigasi juga di arahkan pada upaya mengantisipasi kondisi cuaca. Pemerintah berencana menambah pesawat yang dapat di gunakan dalam operasi modifikasi cuaca.
Prabowo meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji bahan atau zat yang di nilai paling efisien untuk mempercepat pelaksanaan modifikasi cuaca.
Seluruh kebutuhan itu akan di tempatkan dalam perencanaan yang lebih terintegrasi.
Pendekatan yang di tekankan pemerintah adalah menyiapkan kapasitas sebelum bencana terjadi, bukan menunggu keadaan memburuk terlebih dahulu.
“Jadi kita persiapan mengatasi mitigasi, jangan menunggu kejadian. Jauh sebelumnya harus kita siapkan,” ungkapnya.
Kapal yang menjadi bagian dari rencana tersebut merupakan ITS Giuseppe Garibaldi, kapal induk milik Italia yang di peroleh Indonesia melalui skema hibah antarpemerintah.
Kapal itu di rencanakan masuk ke jajaran TNI AL dan kemudian menggunakan nama KRI Gajah Mada.
Per Senin, 7 September 2026, kapal tersebut masih dalam perjalanan menuju Indonesia setelah di berangkatkan dari Italia pada 24 Agustus 2026.
Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya menyampaikan kapal di perkirakan tiba sekitar 15 hingga 20 September 2026.
Sebelum kapal tiba di Indonesia, TNI telah melakukan persiapan untuk meningkatkan kemampuan operasi helikopter berbasis kapal.
Pada Selasa hingga Rabu, 25-26 Agustus 2026, TNI AD, AL dan AU melaksanakan latihan terintegrasi di Surabaya.
Penerbang TNI AU berlatih prosedur, teknik serta aspek keselamatan dalam operasi helikopter dari kapal.
BACA JUGA:
Fespin ke-13, Payung Geulis Kota Tasikmalaya Tampil Mempesona di Taman Balekambang Solo
Simulasi di lakukan menggunakan helideck simulator dan replika flight deck Giuseppe Garibaldi. Kemudian di lanjutkan dengan latihan di atas KRI Makassar.
Rencana pemanfaatan kapal induk, helikopter, drone, pesawat modifikasi cuaca serta berbagai peralatan darat tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.
Prabowo menilai, Indonesia membutuhkan peningkatan kapasitas mitigasi karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.
Dengan strategi tersebut, pemerintah ingin membangun sistem yang memungkinkan berbagai aset telah tersedia dan dapat di gerakkan sebelum bencana berkembang menjadi lebih luas.
(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)



