PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Bupati Pangandaran Citra Pitriyami memerankan karakter Dewi Siti Samboja dalam pagelaran seni Niskala Gudha Dewi Siti Samboja. Pentas ini menghadirkan perjumpaan simbolik antara legenda masa lalu dan dinamika kepemimpinan masa kini.
Pegiat Sarasa Institut sekaligus aktivis Aliansi Masyarakat Pangandaran (Amparan), Tedi Yusnanda N, menyebut kedua figur hidup pada zaman berbeda namun mengusung tema perjuangan perempuan yang serupa.
Baca Juga: Misteri Nama “Tuti Nurhaeti” di Peta Blok Lahan Pantai Madasari Pangandaran
“Samboja tidak memilih berhenti sebagai korban. Ia melakukan transformasi identitas dan memasuki dunia ronggeng, dalam sejumlah versi terkenal sebagai Nini Bogem atau Nyi Rengganis. Ini menunjukkan perlawanan tidak selalu harus berhadapan langsung. Bisa lewat kecerdarkan, penyamaran, kesabaran dan kemampuan mengubah diri,” kata Tedi, Minggu (30/8/2026).
Tedi meyakini Samboja membawa simbol emansipasi melalui proses transformasi diri tanpa membiarkan tragedi masa lalu mengunci masa depannya.
“Dalam bahasa filsafat eksistensial, manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh apa yang telah terjadi kepadanya. Samboja memilih untuk bergerak, memilih untuk berubah,” ujarnya.
Narasi Kepemimpinan dan Ruang Identitas Mandiri
Tedi menilai sosok Citra Pitriyami memperlihatkan aktualisasi kontemporer dari simbol Dewi Siti Samboja. Struktur naratif kehidupan keduanya menunjukkan kemiripan peran yang kuat.
“Seorang perempuan yang berada di ruang kekuasaan yang telah memiliki sejarah sebelumnya, kemudian berusaha menemukan identitas dan jalannya sendiri,” katanya.
Setiap pemimpin baru senantiasa menerima warisan jaringan kekuasaan, kebijakan, hingga ingatan politik dari era sebelumnya.
“Bayang-bayang kekuasaan lama bisa berarti warisan pengaruh, ekspektasi publik, loyalitas politik, hingga pola hubungan yang sudah terbentuk. Pertanyaannya: apakah hanya menjadi kelanjutan, atau mampu membangun identitas politik sendiri?” kata Tedi.
Mengutip teori Antonio Gramsci, Tedi menjelaskan bahwa seseorang tidak harus memilih konfrontasi terbuka untuk lepas dari bayang-bayang kekuasaan masa lalu.
“Samboja memberikan metafora menarik. Ia tidak menghadapi Bajo dengan identitas lamanya. Ia melakukan transformasi. Dalam politik, ini bisa termaknai sebagai proses membangun otonomi politik,” ucapnya.
Pentas Seni Sebagai Legitimasi Sosial dan Kebudayaan
Tedi menyoroti langkah Bupati Citra yang memanfaatkan pementasan seni sebagai langkah membangun legitimasi sosial masyarakat. Mengacu pada pemikiran Pierre Bourdieu, legitimasi tumbuh dari reputasi serta nilai-nilai simbolik kebudayaan.
“Ketika Citra mengambil peran Samboja, ia memasuki wilayah simbol yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Pangandaran. Beliau tidak hanya hadir sebagai pemegang jabatan, tetapi juga sebagai perempuan yang berada dalam ruang kebudayaan masyarakat yang Ia pimpin,” kata Tedi.
Tedi meluruskan bahwa pementasan seni ini bukan bentuk perlawanan terhadap pihak mana pun, melainkan murni resonansi simbolik kebudayaan.
“Seni memiliki kemampuan mempertemukan pengalaman berbeda tanpa menyatakan keduanya identik. Samboja menjadi cermin. Citra menjadi sosok yang bercermin,” ujarnya.
Mengakhiri analisisnya, Tedi menegaskan bahwa pesan utama perjumpaan simbolik ini bermuara pada otonomi seorang pemimpin dalam menentukan arah geraknya.
“Samboja tidak dapat menghapus tragedi yang menimpanya, tetapi ia dapat menentukan jalan setelahnya. Citra tidak dapat menghapus sejarah politik Pangandaran sebelumnya, tetapi secara simbolik ia memiliki ruang untuk menentukan seperti apa kepemimpinannya,” kata Tedi.
“Kekuasaan lama tidak selalu harus dihancurkan untuk dapat dilampaui. Kadang cukup ditinggalkan sebagai masa lalu, sementara seseorang membangun legitimasi dan identitasnya sendiri,” pungkas Tedi.
(Sajidin)



