BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai membuka peluang investasi di sektor lingkungan sebagai bagian dari upaya membangun kota yang lebih berkelanjutan. Tiga sektor menjadi prioritas, yakni pengelolaan sampah, air bersih, dan peningkatan kualitas udara.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, peluang investasi tersebut dikaji dengan dukungan Pemerintah Inggris dan International Finance Corporation (IFC). Kajian itu kini telah rampung dan akan menjadi salah satu bahan bagi Pemkot Bandung dalam menyusun kebijakan pembangunan.
“Beberapa peluang dari investasi di bidang lingkungan itu, satu, pengelolaan sampah tentunya. Kedua, peningkatan pengelolaan air bersih, dan ketiga, peningkatan investasi dalam peningkatan kualitas udara,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: Mesin Pengolah Sampah Hibah Jabar Belum Konsisten, Oktober jadi Penentu
Menurutnya, investasi di sektor lingkungan diperlukan untuk mendukung target Kota Bandung menekan emisi gas buang dan efek rumah kaca hingga 22 persen pada 2035.
Hasil kajian tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bandung. Kajian akan diturunkan menjadi panduan kebijakan dan diselaraskan dengan dokumen perencanaan pembangunan daerah, termasuk RPJMD dan RPJPD.
Pelaksanaan Program 2027
Farhan mengatakan, kajian tersebut juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam menyusun perencanaan pada 2028 serta pelaksanaan program pada 2027.
Dengan adanya parameter yang terukur, Pemkot Bandung dapat mengevaluasi capaian setiap program, termasuk menentukan sektor yang dinilai berhasil maupun yang masih membutuhkan perbaikan.
“Jadi kita bisa ada patokan-patokan yang bisa kita jadikan sebagai alat ukur parameter. Yang berhasil indeksnya berapa, yang kurang berhasil indeksnya berapa. Itulah kira-kira unsur-unsur ilmiahnya,” ujarnya.
Dari tiga sektor yang dikaji, pengelolaan sampah menjadi salah satu perhatian utama. Farhan mengakui investasi di bidang tersebut di Kota Bandung selama ini belum berjalan optimal.
Farhan menjelaskan, penanganan sampah masih cenderung dilakukan secara reaktif dan responsif ketika persoalan muncul. Karena itu, Pemkot Bandung ingin mengembangkan pola pengelolaan yang lebih terencana, termasuk memperkuat penanganan sampah dari hulu.
Perencanaan Jangka Panjang
“Kita lebih banyak melakukan penanganan sampah saja, yang bentuknya juga lebih ke reaktif sama responsif, bukan perencanaan jangka panjang,” jelasnya.
Ke depan, pengelolaan sampah tidak hanya diarahkan pada teknologi pengolahan berskala besar di bagian hilir. Pemkot Bandung juga ingin mendorong pengolahan sampah berbasis wilayah dengan skala kecil hingga menengah.
Baca Juga: 2 Ribu Warga Kota Bandung Masih Andalkan Mobil Tangki
Konsep tersebut akan melengkapi rencana pengolahan sampah menjadi energi melalui Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Selain PSEL, Pemkot Bandung tengah mengembangkan teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) di kawasan Gedebage. Program tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi serta Danantara.
“Diharapkan dari penelitian ini kita bisa mendapatkan berbagai macam ide, tidak hanya PSEL yang jumlahnya besar di hilir, tetapi juga pengelolaan sampah di hulu yang sifatnya pengelolaan sampah per wilayah dalam skala-skala kecil sampai menengah,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



