BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kota Bandung sukses terpilih sebagai tuan rumah babak final sekaligus puncak rangkaian turnamen nasional sepak bola inklusif, Soccer for Equality 2026.
Turnamen ini berfungsi sebagai panggung kompetisi sepak bola sekaligus motor gerakan solidaritas nasional untuk menyokong akses pendidikan yang setara bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Plan Indonesia bersama SalingJaga dari Kitabisa menginisiasi langsung agenda besar ini di lima kota besar tanah air.
Baca Juga: Lautan Pelari Padati Balai Kota Bandung, 7.200 Peserta Ramaikan MILO ACTIV Indonesia Race 2026
Rangkaian kompetisi bergulir mulai dari Jabodetabek pada 16–17 Mei 2026, lalu berlanjut ke Malang, Balikpapan, dan Makassar. Pihak panitia kemudian memilih Stadion Siliwangi Kota Bandung sebagai lokasi puncak acara pada 18–19 Juli 2026 sekaligus simbol perjuangan kesetaraan gender lewat olahraga.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti menjelaskan bahwa kompetisi tahun ini berhasil menjaring total 173 tim peserta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 32 kelompok merupakan tim sepak bola perempuan dengan rentang usia 10 hingga 12 tahun.
“Alhamdulillah ini kali kedua kita kerja sama ya dengan SalingJaga, Kitabisa, untuk melakukan program Soccer for Equality ini,” ucap Dini saat memberikan keterangan, Minggu (19/7/2026).
Dini menambahkan bahwa skala turnamen tahun ini mengalami perluasan yang cukup signifikan dari pelaksanaan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu kompetisi hanya menyapa dua kota, kini mereka berhasil merambah hingga lima kota besar dengan Bandung sebagai lokasi final.
“Kalau tahun lalu di dua kota, sekarang lima kota. Bandung pastinya, Jabodetabek, kita ada di Malang, Makassar, dan satu lagi, Balikpapan. Dan final di Bandung,” ujarnya.
Sepak bola adalah Ruang yang Setara
Lebih lanjut Dini menuturkan, turnamen ini membawa misi sosial yang sangat mendesak bagi kesejahteraan anak perempuan di NTT. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata lama sekolah di NTT pada 2024 baru menyentuh angka 8,38 tahun, tertinggal dari angka nasional yang mencapai 9,22 tahun.
Kondisi tersebut kian memprihatinkan akibat tingginya angka perkawinan anak serta diskriminasi gender yang kerap menjegal masa depan anak perempuan. Melalui sepak bola, Plan Indonesia ingin meruntuhkan sekat-sekat pembatas tersebut.
“Sepak bola adalah ruang yang setara. Di lapangan, tidak ada batasan siapa yang boleh bermimpi atau menunjukkan kemampuan,” tegas Dini.
Ia ingin memastikan lebih banyak anak perempuan mendapat kesempatan penuh untuk merambah dunia olahraga. Termasuk cabang sepak bola yang selama ini identik dengan kaum laki-laki. Langkah ini diharapkan mampu membentuk karakter anak perempuan yang percaya diri, berani memimpin, dan optimis menggapai cita-cita.
Di sisi lain, Soccer for Equality 2026 juga menggalang dukungan kuat dari masyarakat luas melalui pemanfaatan ekosistem filantropi digital.
Lewat inisiatif sport charity, turnamen ini sekaligus mengumpulkan donasi publik secara masif. Seluruh dana yang terhimpun akan mengalir langsung untuk mendukung pemenuhan hak-hak dasar dan fasilitas pendidikan anak-anak di bumi NTT.
(Arif)



