PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Deretan rumah sederhana di Gang Babakan, Desa Bojongsari, Kabupaten Pangandaran kini berdiri rapi. Jalan lingkungan yang sudah mulus tercor dan halaman penuh bunga menciptakan suasana kampung yang begitu tenang.
Namun, tidak banyak orang tahu bahwa dua dekade lalu tempat ini hanyalah area rawa dan kebun belukar yang rimbun. Kini, warga sekitar mengenal kawasan tersebut sebagai “Perumahan Tsunami”, tempat tinggal bagi para penyintas bencana tsunami Pangandaran 17 Juli 2006.
Baca Juga: SPP SMA Negeri di Jabar Bakal Berlaku Lagi? Ini Penjelasan Kepala SMAN 1 Pangandaran
Salah seorang penghuni yang masih bertahan, Iin (67), mengingat betul bagaimana warga membangun kawasan ini benar-benar dari titik nol.
“Dulunya ini kebon dahon, rawa. Rimbun sekali. Enam bulan ngebabatnya, dikerjakan 12 orang. Sehari sampai 27 truk bolak-balik angkut tanah,” kenang Iin di rumahnya, Sabtu (18/07/2026).
Sebelum menempati rumah baru, Iin bersama puluhan penyintas lain harus menghabiskan waktu hampir dua tahun di dalam tenda pengungsian. Mereka sempat menerima bantuan dana stimulan sebesar Rp15 juta, namun nominal tersebut tidak cukup untuk membeli sebidang tanah sekaligus membangun rumah.
“Waktu itu dikasih uang Rp15 juta, tapi enggak punya tanah, enggak punya rumah. Kalau buat beli rumah paling cuma dapat sepetak. Terus bangunnya di mana?” ujarnya.
Peran Lembaga Kemanusiaan yang Menawarkan Bantuan
Titik terang akhirnya muncul saat sebuah lembaga kemanusiaan donatur menawarkan bantuan. Lembaga tersebut meminta para penyintas mencari lahan yang luas agar mereka bisa membangun rumah dalam satu kawasan terpadu.
“Katanya, ‘masa mau bertahan terus di tenda? Coba cari tanah yang luas, nanti dibangun bareng. Saya bantu bahan rumahnya’,” tutur Iin.
Warga akhirnya memilih lahan di kawasan Babakan meski kondisinya penuh lumpur dan semak. Para penyintas kemudian bergotong royong membersihkan area tersebut selama enam bulan berturut-turut.
Setelah lahan siap, lembaga Church World Service (CWS) langsung turun tangan membantu pembangunan rumah. Bangunan generasi pertama tersebut memiliki ukuran 6×6 meter dengan dinding bilik bambu dan atap seng.
“Dulu masih bilik. Atasnya seng, sekarang diganti asbes karena sudah banyak yang bocor,” kata Iin.
Seiring berjalannya waktu, warga mulai merenovasi rumah mereka secara mandiri sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.
Jumlah Penghuni Asli yang Terus Menyusut
Awalnya, proyek perumahan ini menampung 22 kepala keluarga penyintas. Namun, setelah 20 tahun berselang, jumlah penghuni asli terus menyusut secara drastis.
“Semuanya dulu 22 penerima. Sekarang yang asli survivor tinggal delapan orang. Ada yang pindah, ada juga yang sudah meninggal,” ujar Iin.
Meskipun jumlah mereka berkurang, hubungan antarwarga tetap terikat erat karena mereka pernah sama-sama melewati masa-masa sulit selama di pengungsian.
Iin menceritakan bahwa kawasan ini sempat menjadi langganan banjir pada tahun-tahun awal karena posisinya yang bekas rawa. Terlebih lagi, sebuah aliran sungai di belakang permukiman kerap meluap setiap kali hujan deras mengguyur.
“Awal-awal sering banjir. Sekarang juga kalau hujan besar pas pancaroba air suka naik sampai ke rumah. Belakang ini kan sungai,” katanya.
Bagi Iin, Perumahan Tsunami memuat makna yang jauh lebih mendalam dari sekadar bantuan fisik bangunan. Tempat ini menjadi simbol perjuangan 22 keluarga untuk merajut kembali kehidupan mereka setelah kehilangan rumah dan harta benda akibat bencana dahsyat 17 Juli 2006.
Kini, rekahan bunga-bunga di depan rumah seolah menegaskan bahwa kehidupan baru yang indah telah tumbuh subur di atas lahan yang dulu hanya berupa rawa dan semak belukar.
(Sajidin)



