BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung Jawa Barat (Jabar) memperkuat upaya pencegahan bullying di sekolah pada tahun ajaran 2026/2027.
Strategi yang di tempuh tidak hanya melalui pelatihan guru Bimbingan dan Konseling (BK) oleh psikolog. Tetapi juga melanjutkan pendidikan karakter bagi siswa kelas 9 dengan melibatkan instruktur TNI dan Polri.
BACA JUGA:
Kondisi Wali Kota Bandung Muhammad Farhan Membaik, Tim Dokter Masih Lakukan Observasi
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, penanganan bullying harus di mulai sebelum muncul korban.
Karena itu, Pemerintah Kota Bandung memilih memperkuat sistem pencegahan melalui pendampingan psikologis dan pembentukan karakter siswa.
“Untuk pengawasan bullying, tahun lalu kita sudah mulai melakukan pelatihan kepada para guru BK oleh psikolog. Nanti kita evaluasi apakah efektif atau tidak. Kita ingin mencegah berkembangnya budaya kekerasan atau bully sejak awal,” kata Farhan saat Meninjau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 43 Bandung, Senin (13/7/2026).
Farhan menjelaskan, guru BK menjadi ujung tombak dalam mendeteksi persoalan yang di hadapi peserta didik. Termasuk mengenali potensi perundungan maupun kekerasan di lingkungan sekolah sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih serius.
Selain itu, Pemkot Bandung tetap menjalankan program pendidikan karakter melalui kegiatan bela negara bagi siswa kelas 9.
Program tersebut telah di mulai sejak 2025 berdasarkan hasil kajian akademik dan di laksanakan setiap Jumat di sekolah.
BACA JUGA:
Bandung Jadikan Palestina Sorotan Utama Asia Africa Festival 2026
“Sejak tahun 2025 kita sudah mulai berdasarkan kajian dari UPI. Setiap hari Jumat pendidikan bela negara di lakukan oleh para instruktur dari TNI dan Polri untuk masuk ke sekolah khusus kelas 9,” katanya.
Menurutnya, siswa kelas 9 menjadi sasaran program karena berada pada masa pencarian jati diri yang membuat mereka lebih rentan terhadap pengaruh lingkungan maupun tekanan pergaulan.
“Kenapa? Karena anak-anak remaja ini sedang rentan-rentannya. Mereka mencari identitas, mencari kelompok tertentu. Kita pastikan mereka tidak tersesat,” ucapnya.
Farhan berharap, kombinasi penguatan pendidikan karakter, pendampingan psikologis serta peningkatan kapasitas guru BK mampu menekan angka perundungan sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat dan nyaman bagi para peserta didik.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak lagi cukup di lakukan melalui pendekatan konvensional. Tetapi juga harus di dukung dengan layanan psikologi yang memadai di lingkungan sekolah.
“Tapi yang pasti sekarang ini pendidikan karakter juga harus di kombinasikan dengan psikolog modern. Itu sebabnya saya akan evaluasi hasil pelatihan guru-guru BP, sekaligus mengevaluasi keberadaan psikolog klinis yang ada di 12 puskesmas,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



