spot_imgspot_img
Jumat 10 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Farhan: Akibat Kemarau Pasokan Pangan ke Kota Bandung Bisa Terganggu

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Wali Kota Bandung Jawa Barat (Jabar), Muhammad Farhan wanti-wanti potensi terganggunya pasokan bahan pangan menjelang musim kemarau.

Kondisi tersebut di nilai perlu di antisipasi agar ketersediaan pangan dan stabilitas harga tetap terjaga.

BACA JUGA:

Berawal dari 450 Bata, Pertanian Organik Desa Cisadap Ciamis Kini Meluas Jadi 4 Hektare

Farhan mengatakan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memiliki peran penting untuk memastikan distribusi bahan pangan ke Kota Bandung tetap berjalan lancar. Mengingat kota ini bergantung pada pasokan dari daerah lain.

“Menjelang kemarau saya sangat khawatir suplai bahan makanan ke Kota Bandung terganggu. Kita mau pastikan suplai yang tidak terganggu dan distribusi yang lancar,” kata Farhan, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, Kota Bandung bukan daerah penghasil pangan. Sehingga seluruh kebutuhan masyarakat bergantung pada pasokan dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Kita ini bukan produsen. Kita ini 100 persen konsumen. Sedikitnya 16 provinsi menjadi supplier kita,” katanya.

Farhan menjelaskan, pemerintah hanya dapat melakukan intervensi langsung melalui Bulog untuk menjamin ketersediaan bahan pangan pokok.

Sementara itu, distribusi kepada para pelaku usaha juga harus di pastikan berjalan baik agar pasokan di pasar tetap mencukupi.

“Pemerintah akan memastikan bahwa bahan pangan dasar tersedia. Yang kedua adalah memastikan para pelaku di pasar, baik itu dari penyuplai sampai pengecer mendapatkan barangnya dulu. Karena dengan suplai yang cukup, maka harga pun akan bisa sama-sama kita kendalikan,” jelasnya.

Farhan mengungkapkan, saat ini harga telur dan daging ayam cenderung menurun. Sehingga menguntungkan masyarakat. Namun, kondisi tersebut juga perlu di imbangi dengan menjaga keberlangsungan usaha para pemasok.

“Saat ini masyarakat lagi happy karena harga telur dan harga ayam lagi turun. Tapi pada saat bersamaan kita juga mesti memperhatikan para supplier. Kalau harganya turun terus, lama-lama supplier akan menghentikan suplainya. Nah, ini yang mengkhawatirkan,” ucapnya.

BACA JUGA:

Farhan Ungkap Kriminalitas Bandung Melonjak 20 Persen, Banyak Pelaku Masih Remaja

Terkait cadangan pangan, idealnya memiliki rotasi cadangan sekitar 250 ton beras setiap hari. Namun, penyimpanan beras dalam jumlah besar juga memiliki tantangan tersendiri.

“Minimal kita harus punya sekitar 250 ton beras per hari untuk di rotasikan. Kita memang tadinya kebayang punya stok, tapi penyimpanannya enggak mudah. Beras tidak boleh disimpan lama-lama nanti busuk,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru