PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sebagian masyarakat di wilayah perbatasan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, masih mengandalkan moda transportasi air tradisional. Jalur penyeberangan Sungai Citanduy tetap menjadi pilihan utama warga demi memotong waktu perjalanan antarprovinsi.
Pada titik penyeberangan yang menghubungkan Kecamatan Padaherang (Pangandaran) dengan Kecamatan Sidareja (Cilacap), warga mengoperasikan rakit bambu bermesin perahu motor. Angkutan sungai ini memindahkan puluhan sepeda motor dan penumpang setiap harinya membelah arus Sungai Citanduy.
“Masyarakat memilih jalur air ini karena mampu menghemat waktu secara signifikan daripada harus memutar lewat jalur darat. Kami hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua menit saja untuk menyeberang sampai ke wilayah Cilacap,” ungkap pengelola penyeberangan, Nono (51), Rabu (24/6/2026).
Nono menambahkan, para pengguna jasa cukup merogoh kocek yang sangat ramah kantong. Pihaknya menetapkan tarif penyeberangan berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000, tergantung pada jenis kendaraan komoditas serta kapasitas muatan yang dibawa penumpang.
Bertahan Sejak Tahun 1990, Rakit Tradisional Citanduy Topang Urat Nadi Ekonomi Pekerja Dua Provinsi
Salah seorang pengguna jasa penyeberangan, Ucan (67), mengakui kepraktisan rute sungai tersebut. Mobilitas harian terasa lebih ringkas melalui dermaga tradisional ini.
“Jika saya memilih berkendara lewat jalur darat Kalipucang, waktu tempuhnya jauh lebih lama dan memakan durasi. Penyeberangan rakit ini menawarkan akses yang jauh lebih dekat, dan kami sebagai warga setempat sudah sangat terbiasa menggunakannya,” tutur Ucan.
Berdasarkan memori kolektif warga, operasional penyeberangan rakit bambu ini sudah melayani masyarakat sejak medio 1990-an. Sekali berlayar, satu unit rakit mampu mengangkut beban sebanyak 7 hingga 8 unit sepeda motor beserta para pengendaranya secara bersamaan.
Guna mengantisipasi kecelakaan air dan menjaga keselamatan penumpang, pihak pengelola secara berkala melakukan perawatan fisik rakit bambu. Mereka juga menyediakan fasilitas pelampung di atas rakit.
Meskipun otoritas terkait belum meresmikan jalur ini sebagai rute transportasi formal, rupa-rupa kalangan mulai dari pedagang pasar, buruh pabrik, pekerja harian, hingga masyarakat umum rutin memanfaatkan jasa rakit ini.
Kehadiran getek bermesin ini sukses menggerakkan roda ekonomi dan menyokong mobilitas warga lokal. Aliran Sungai Citanduy sendiri membentang luas melintasi wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, hingga bermuara di Cilacap. Di tengah masifnya pembangunan infrastruktur jalan aspal, rakit bambu terbukti tangguh bertahan sebagai jembatan hidup warga di perbatasan dua provinsi.
(Sajidin)



