PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Kabupaten Pangandaran sekaligus Koordinator Panitia Hajat Laut 2026, Jeje Wiradinata, menegaskan esensi Hajat Laut adalah wujud syukur nelayan kepada Allah atas hasil tangkapan dan doa keselamatan saat melaut.
”Esensi hajat laut itu adalah siklus kehidupan nelayan, nangkap ikan, nangkap ikan, kemudian bersyukur pada Allah. Evaluasi tadi, kan itu namanya hajat laut, lain (bukan) nyeburin sesajen,” ujar Jeje kepada sejumlah wartawan Selasa (16/6/2026).
Ia juga meluruskan anggapan sebagian komunitas yang menilai Hajat Laut kurang sakral karena tidak digelar Jumat Kliwon. Menurutnya, semua hari baik untuk bersyukur.
Baca Juga: Ribuan Warga Meriahkan Hajat Laut Pangandaran
“Emang hari ada hari istimewa? Ya hajat laut biasanya kan Jumat Kliwon. Kata siapa? Saya mah menganut hari itu baik. Seluruh umat manusia yang mengucapkan syahadat masuk surga. Cuma ada yang langsung, ada yang tidak langsung (masuk surga),” katanya.
Menurut Jeje, orang yang beriman tentunya akan langsung masuk surga, sebaliknya orang-orang yang sering berbuat maksiat, seperti suka mabuk-mabukan akan di siksa terlebih dulu sebelum di masukkan ke surga.
”Dan satu lagi, orang yang tidak masuk surga itu orang yang musrik. Yang Makai sesajen itu musrik atau tidak saya tidak tahu, saya tidak ingin mengatakan itu musrik. Tetapi intinya yang meninggikan makhluk atau buatan mahluk itu adalah sesuatu yang menyimpang dari akidah,” kata Jeje.
Budaya Terawat Akidah Terjaga
Sebagai Ketua HNSI dan Ketua KUD, Jeje menegaskan Hajat Laut 2026 mengusung tema “Budaya Terawat Akidah Terjaga”. Prosesi tabur bunga, menurutnya, bukan sesajen melainkan simbol cinta kepada laut dan bentuk ziarah.
”Nyi Roro kidul makhluk apa sih? Sesajen buat siapa? Buat Gusti Allah? Gusti Allah mah teu beukieun (tidak suka) sesajen. Bunga itu tanda cinta kasih, sayang kepada laut. Yang kedua, ziarah kubur, itu aja,” jelasnya.
Baca Juga: Hajat Laut Pangandaran 2026 Resmi Digelar Besok, Simak Jadwal dan Lokasi Kegiatannya
Ia mencontohkan sikap Umar bin Khattab terhadap Hajar Aswad sebagai pengingat agar tidak meninggikan makhluk atau ciptaan makhluk di luar ajaran akidah.
”Yang meninggikan benda atau makhluk atau ciptaan makhluk, menurut saya itu adalah cenderung seperti itu. Hajat laut bagian dari siklus evaluasi perenungan nelayan, ingat itu,” tegasnya.
Hajat Laut Pangandaran 2026 sendiri digelar 7-16 Juni 2026 dengan puncak acara karnaval dongdang dan prosesi tabur bunga di Pantai Timur, Selasa 16 Juni 2026.
(Sajidin)



