BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pasca-penetapan resmi sebagai nakhoda baru Bandung Zoo (Kebun Binatang Bandung), manajemen Faunaland langsung tancap gas merancang cetak biru revitalisasi kawasan. Perusahaan rekreasi tersebut membidik penerapan standar konservasi dan kesejahteraan satwa bertaraf internasional lewat jalinan kemitraan taktis bersama sejumlah lembaga pelestarian alam terkemuka di dunia.
CEO Faunaland, Danny Gunalen, membeberkan bahwa pihaknya sukses mengunci kerja sama strategis dengan dua raksasa konservasi global, yaitu Vantara dan Bin Zayed Conservation Foundation. Sinergi lintas negara ini akan mengawal seluruh proses transisi dan modernisasi operasional Bandung Zoo ke depan.
Baca Juga: Guru Besar UPI Siapkan Aplikasi Supervisi Digital bagi Guru Penjas SD
Menurut Danny, kolaborasi eksternal ini bertujuan untuk mendongkrak kapasitas riset, memperketat perlindungan satwa, menerapkan standardisasi animal welfare tertinggi, serta mengadopsi praktik-praktik terbaik yang berlaku di lembaga konservasi internasional.
“Kami membangun kolaborasi internasional ini bukan untuk merombak atau menghapus karakter asli Bandung Zoo. Sebaliknya, kami ingin memperkuat kualitas tata kelola di dalamnya. Langkah ini akan menghadirkan standar konservasi dan kesejahteraan satwa yang jauh lebih baik, tanpa menanggalkan identitas Bandung Zoo sebagai aset sejarah kebanggaan warga Kota Kembang,” tegas Danny Gunalen, Rabu (10/6/2026).
Gandeng Vantara dan Bin Zayed Foundation, Faunaland Evaluasi Total Koleksi Satwa
Selain mengikat komitmen global, manajemen Faunaland dalam waktu dekat akan menerjunkan tim ahli untuk mengaudit dan mengevaluasi secara menyeluruh seluruh aspek kawasan. Evaluasi total tersebut mencakup kelayakan infrastruktur fisik, fasilitas publik, sistem manajemen operasional harian, hingga rekam medis serta kondisi psikologis seluruh koleksi satwa yang ada saat ini.
Danny menyatakan bahwa hasil audit komprehensif tersebut bakal menjadi fondasi utama bagi perusahaan dalam menyusun linimasa program revitalisasi, sekaligus menentukan tahapan pembukaan kembali (reopening) gerbang Bandung Zoo untuk wisatawan.
Ia menggarisbawahi bahwa prinsip kesejahteraan satwa wajib melandasi setiap kebijakan tata kelola kebun binatang. Selama masa renovasi berlangsung, para pekerja akan memprioritaskan perbaikan kualitas habitat. Selanjutnya memprioritaskan pemenuhan nutrisi yang presisi, penguatan layanan medis satwa, hingga stimulasi pengayaan perilaku (behavioral enrichment).
“Bagi kami, animal welfare bukan sekadar jargon atau program kerja musiman, melainkan sebuah prinsip suci yang menuntun seluruh proses operasional. Kami menaruh perhatian paling besar pada kelayakan ruang hidup satwa, kecukupan gizi dan kecepatan layanan kesehatan. Hingga kenyamanan psikologis mereka agar terhindar dari stres,” jelas Danny.
Laboratorium Pembelajaran Keanekaragaman Hayati (biodiversity)
Lebih dari sekadar meremajakan tampilan fisik dan estetika kandang, Faunaland memasang target besar untuk mentransformasi Bandung Zoo menjadi pusat edukasi. Serta menjadi laboratorium pembelajaran keanekaragaman hayati (biodiversity) terlengkap di Indonesia. Lewat penguatan fungsi sains dan pendidikan interaktif ini, manajemen ingin memacu kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa dan ekosistem lingkungan hidup.
Danny merasa sangat optimis bahwa Bandung Zoo mampu melesat menjadi salah satu lembaga konservasi dan edukasi terdepan di tanah air. Guna memuluskan target ambisius tersebut, ia akan merangkul seluruh pemangku kepentingan (stakeholders). Mulai dari jajaran pemerintah daerah, kalangan akademisi kampus, komunitas pencinta satwa, organisasi lingkungan, hingga jejaring konservasi nasional dan global.
“Kami ingin menyuguhkan wajah baru Bandung Zoo sebagai pusat konservasi dan ruang edukasi. Terlebih menjadi destinasi rekreasi yang tetap relevan bagi generasi hari ini maupun anak cucu kita di masa depan. Tempat ini tidak sekadar menawarkan petualangan berkunjung yang berkesan bagi pelancong. Tetapi juga memberikan kontribusi riil yang konkret bagi masa depan pelestarian alam Indonesia,” pungkas Danny.
(Yusuf Mugni)



