spot_imgspot_img
Jumat 5 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ketum PM Garut Utara: Anak Cucu jangan Diwarisi Air Mata

GARUT, FOKUSJabar.id: Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen mengatakan, saat ini Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar) tengah menghadapi krisis lingkungan yang tidak bisa di pandang sebagai persoalan biasa.

Kerusakan gunung dan bukit akibat tambang liar, alih fungsi lahan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, menyusutnya ruang hijau serta persoalan sampah dan limbah yang belum tertangani secara optimal merupakan ancaman nyata bagi masa depan Garut.

BACA JUGA:

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, SSC Garut Ajak Masyarakat Hidup Selaras dengan Alam

Karenanya, krisis lingkungan di Garut tidak hanya menjadi urusan daerah atau pemerintah provinsi. Kini sudah saatnya menjadi agenda Nasional dan perhatian dunia.

Ironisnya, persoalan sebesar ini masih sering berhenti sebagai bahan diskusi, seminar dan kajian di tingkat daerah maupun provinsi.

Padahal dampaknya telah melampaui batas administratif wilayah dan menyangkut kepentingan nasional.

“Sudah saatnya krisis lingkungan di Garut menjadi perhatian serius Indonesia bahkan dunia,” tegas Holil, Jumat (5/6/2026).

Salah satu persoalan yang semakin mengkhawatirkan adalah maraknya aktivitas penambangan pasir, batu dan tanah di berbagai wilayah Garut.

“Gunung di potong, Bukit di keruk, Lereng di belah. Bentang alam yang terbentuk selama ribuan tahun berubah hanya dalam hitungan bulan. Ini sangat membahayakan,” ungkapnya.

Alam seakan di pandang semata-mata sebagai komoditas ekonomi yang dapat di eksploitasi tanpa batas. Keuntungan di peroleh dalam waktu singkat. Tetapi kerusakan yang di tinggalkan berpotensi di wariskan kepada generasi mendatang.

Ketika vegetasi hilang dan struktur tanah terganggu. Ancaman longsor, erosi, sedimentasi sungai serta berkurangnya kemampuan tanah menyerap air menjadi konsekuensi yang sulit di hindari.

Hulu Cimanuk Terus Terluka

Kawasan hulu DAS Cimanuk merupakan jantung ekologis Kabupaten Garut. Dari kawasan inilah kehidupan di mulai. Air yang mengalir ke sawah, rumah penduduk hingga berbagai sektor ekonomi berasal dari keberlangsungan ekosistem hulu.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, kawasan hulu terus mengalami tekanan akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

BACA JUGA:

Ketum Paguyuban Masyarakat Garut Utara Ketuk Pintu Sila ke-5 Pancasila

Lahan yang seharusnya menjadi kawasan resapan air berubah fungsi. Sehingga kemampuan alam menyimpan cadangan air semakin berkurang.

Ketika musim hujan datang, air melimpas menjadi banjir dan longsor.  Sebaliknya saat musim kemarau, masyarakat menghadapi ancaman kekurangan air bersih.

“Berbagai kejadian banjir dan longsor menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan telah mengalami tekanan yang cukup berat,” katanya.

Sawah Hilang, Beton Datang

Pembangunan memang sebuah kebutuhan. Pertumbuhan ekonomi juga sebuah keniscayaan. Namun pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan melahirkan masalah baru.

Di berbagai wilayah Garut, lahan hijau, sawah produktif dan kawasan terbuka perlahan berubah menjadi kawasan perumahan, pabrik, pergudangan dan bangunan komersial lainnya.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa perencanaan yang bijaksana, maka Garut akan kehilangan salah satu modal terbesarnya. Yaitu keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.

“Ketika sawah hilang, yang hilang bukan hanya padi. Ketika ruang hijau hilang, yang hilang bukan hanya pepohonan. Yang hilang adalah keseimbangan kehidupan itu sendiri,” tegas Holil.

Sukaregang dan Jeritan Lingkungan

Industri kulit Sukaregang merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Garut yang telah di kenal hingga mancanegara.

Industri ini telah memberikan kontribusi ekonomi yang besar dan membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan masyarakat.

Namun di sisi lain, persoalan limbah, sampah industri, pencemaran lingkungan, kualitas air serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Kemajuan ekonomi tidak boleh di bayar dengan rusaknya lingkungan dan menurunnya kualitas hidup masyarakat.

Pembangunan yang baik bukanlah memilih antara ekonomi atau lingkungan. Melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan secara seimbang dan berkelanjutan.

Sampah jadi Budaya

Persoalan sampah di Garut tidak lagi dapat di pandang sebagai masalah teknis semata. Persoalan sesungguhnya adalah kesadaran.

Masih banyak sungai di jadikan tempat pembuangan sampah. Saluran air di penuhi limbah. Ruang publik di perlakukan tanpa rasa tanggung jawab. Sampah di buang seolah alam akan selalu mampu menanggung semuanya.

Padahal alam memiliki batas kemampuan. Ketika batas itu terlampaui, bencana hanyalah soal waktu. Persoalan sampah di kawasan Sungai Cimanuk bahkan telah menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi menimbulkan pencemaran dan banjir.

Krisis Lingkungan adalah Krisis SDM

Pada akhirnya, semua persoalan lingkungan bermuara pada satu hal yang sama. Yaitu manusia.

Krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis moral, krisis kesadaran dan krisis tanggung jawab.

Kita terlalu sering berbicara tentang pembangunan, tetapi kurang berbicara tentang keberlanjutan. Kita terlalu sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi sering melupakan biaya ekologis yang harus di bayar oleh anak cucu kita kelak.

BACA JUGA:

Pemkab Garut Terbaik 1 Pengendalian Inflasi Regional Jawa-Bali

Ketika keserakahan lebih dominan dari kebijaksanaan, ketika keuntungan jangka pendek lebih penting daripada keberlanjutan, ketika eksploitasi dianggap lebih menguntungkan daripada pelestarian, maka kerusakan lingkungan hanyalah persoalan waktu.

Karena itu, solusi terbesar bukan hanya regulasi, anggaran atau teknologi. Solusi terbesar adalah membangun SDM yang memiliki karakter, etika, kesadaran ekologis dan kecintaan terhadap lingkungan hidup.

Sudah saatnya penyelamatan lingkungan hidup Garut menjadi agenda bersama. Sudah saatnya pemerintah pusat turun lebih serius melihat persoalan lingkungan di Garut. Sudah saatnya dunia akademik, dunia usaha, aktivis lingkungan, media, tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh warga membangun gerakan bersama yang nyata.

“Garut butuh kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan, penegakan hukum yang tegas terhadap perusakan alam, rehabilitasi kawasan kritis, pengendalian alih fungsi lahan, serta pendidikan lingkungan yang masif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

“Jika kerusakan lingkungan terus di biarkan, maka yang hilang bukan hanya hutan, gunung, sungai, sawah dan mata air. Namun yang hilang adalah masa depan,” imbuhnya.

BACA JUGA:

Arti dan Makna Filosofis Logo PM Gatra

Leluhur Sunda telah mengingatkan sejak lama: “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak” (Hutan rusak, air habis, manusia sengsara).

Hari ini kita sedang menyaksikan betapa benarnya peringatan tersebut. Maka melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, mari menjadikan penyelamatan lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan gerakan nyata.

Jangan menunggu seluruh bukit menjadi gundul. Jangan menunggu sungai menjadi saluran limbah. Jangan menunggu mata air mengering dan jangan menunggu bencana datang lebih besar dari kemampuan kita mengatasinya.

BACA JUGA:

Garut Utara Layak Dimekarkan, Tapi Moratorium DOB Masih Digembok

“Menyelamatkan Garut hari ini, berarti menyelamatkan Indonesia di masa depan,” pungkas Ketum PM Garut Utara sekaligus pemerhati lingkungan Kabupaten Garut.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru