GARUT, FOKUSJabar.id: Direktur Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) Garut Jawa Barat (Jabar), Mulyono Khaddafi mengatakan, setiap tanggal 1 Juni di peringati sebagai Hari Lahir Pancasila.
Peringatan tersebut merupakan momen penting bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menghormati dan mengenang semangat serta nilai-nilai yang menjadi dasar pembangunan negara.
BACA JUGA:
Hardiknas 2026, Sekolah Sungai Cimanuk Garut Prihatin 19 Ribu Anak Putus Sekolah
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia secara resmi di deklarasikan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Proses pembentukan Pancasila melibatkan tokoh-tokoh nasional. Di antaranya, Soekarno (Bung Karno), Mohammad Hatta dan Ki Hajar Dewantara serta tokoh lainnya yang bekerja sama menciptakan ideologi yang mempersatukan bangsa Indonesia.
Putus Sekolah
Mulyono menyoroti masih tingginya angka anak putus sekolah di wilayah Kabupaten Garut yang hampir mencapai 19 orang. Kondisi tersebut di nilai bertentangan dengan Sila ke-2 “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan Sila ke-5 “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

“Makna Pancasila akan kosong kalau masih ada anak Indonesia yang kehilangan hak belajarnya. Upacara boleh khidmat. Tapi kalau anak masih banyak yang putus sekolah, berarti sila-sila itu belum sampai ke gubuk mereka,” ungkap Mulyono.
Menurut Dia, sebaran terbanyak Anak Tak Sekolah (ATS) di wilayah Garut Selatan dan daerah terpencil. Sementara di wilayah tengah dan perkotaan skalanya di taksir 6,7 persen.
Dia menyebut, di blok Cihidueng, Negla dan Pasir Luhur Kecamatan Cikajang banyak penggarap lahan menetap di sana yang lokasinya sangat terpencil. Sehingga anak-anak mereka tidak bisa melanjutkan sekolah.
“Kebiasaan masyarakat di pelosok kerap melibatkan anak-anak dalam kegiatan bertani atau buruh tani. Sehingga ketika tamat sekolah dasar mereka tidak melanjutkan ke smp dan memilih membantu orang tua,” kata Mulyono.
Sekretaris Jenderal Ormas Gerakan Anak Sunda (GAS) ini menilai momentum 1 Juni harus jadi titik balik, bukan seremonial tahunan.
“Bung Karno menggagas Pancasila agar tidak ada lagi anak bangsa yang tertinggal. Kalau anak miskin tak bisa sekolah, berarti sila ke-5 belum sampai ke mereka. Negara wajib hadir,” tegas Dia.
BACA JUGA:
Sekolah Sungai Cimanuk Garut Jaga Ekosistem Air, Pohon Ketapang Kencana Saksinya
Dia mendesak Pemkab dan DPRD Garut mengalokasikan anggaran khusus untuk beasiswa anak kurang mampu, operasional sekolah gratis dan perluasan program Paket A-B-C yang lebih dekat ke pesantren/majelis taklim.
Pancasila bukan hanya di baca saat upacara. Tapi di uji saat ada anak yang miskin harus memilih antara buku atau beras.
(Bambang Fouristian)



