CIAMIS,FOKUSjabar.id: Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat mulai membayangi industri peternakan di wilayah Priangan. Ketua Paguyuban Peternak Ayam Priangan Timur (P2AP), H. Komar Hermawan, mengungkap tren ini otomatis mengerek harga pakan dan mendongkrak Harga Pokok Produksi (HPP) di tingkat peternak.
Meski begitu, Komar menjelaskan dampak beban biaya ini tidak memukul semua peternak dengan rata. Peternak ayam pedaging (broiler) yang menginduk pada sistem kemitraan atau perusahaan besar cenderung aman. Hal ini terjadi karena perusahaan mitra langsung menyesuaikan HPP sehingga peternak tidak tergilas fluktuasi harga pasar.
Baca Juga: Siap-Siap Elus Dada, Harga Cabai Domba dan Bawang Merah di Pasar Manis Ciamis Naik Gila-gilaan
Kondisi kontras justru mengancam para peternak mandiri lokal yang jumlahnya kini semakin menyusut.
“Yang terpengaruh itu adalah kita peternak lokal, peternak mandiri. Kalau peternak mandiri kan kita produksi sendiri dan jual sendiri, sehingga ya kita terkena juga,” ujar Komar saat memberikan keterangan, Rabu (20/5/2026).
Untuk jenis ayam pejantan, Komar menerapkan sistem kerja sama kerakyatan yang berbeda dengan korporasi terintegrasi. Pihaknya merangkul peternak rakyat dengan sistem upah berdasarkan prestasi kerja, bukan hitung-hitungan untung-rugi komersial.
Sepanjang lima bulan pertama tahun 2026, Komar menyebut bisnis ayam pejantan di Priangan sebenarnya masih berada di zona aman karena harga jual konsisten bertengger di atas HPP. Saat ini, harga ayam pejantan di pasar berkisar antara Rp34.000, sementara HPP produksi yang ideal berada di angka Rp29.000 hingga Rp30.000.
Lebaran Haji Konsumsi Ayam Menurun
Namun, Komar menaruh kewaspadaan tinggi terhadap dua tantangan besar, yakni kenaikan harga pakan yang terus berlanjut dan datangnya Hari Raya Iduladha.
“Kami tidak tahu nanti setelah Lebaran Haji, karena Lebaran Haji itu mau tidak mau konsumsi ayam bisa terambil dulu oleh daging kurban, baik domba maupun sapi. Masyarakat menerima pembagian daging langsung, sehingga otomatis tingkat penyerapan ayam agak tertahan,” kata Komar menjelaskan.
Efek Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi Telur dan Ayam, Komar menegaskan program tersebut tidak menyentuh komoditas ayam pejantan karena biaya produksinya terlalu tinggi. Kebijakan MBG sejauh ini murni menyerap ayam broiler dan telur.
Kehadiran program MBG awalnya sukses menjadi dewa penyelamat yang menjaga stabilitas harga telur di pasaran. Namun belakangan ini, peternak petelur kembali menghadapi tekanan berat akibat melesatnya harga pakan serta meningkatnya volume produksi nasional.
(IrfansyahRiza)



