CIAMIS, FOKUSJabar.id: Pohon Angsana raksasa tempat di mana Patilasan Eyang Sanggabuana memiliki nilai historis bagi masyarakat Dusun Citapen Kolot Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) saat berjuang melawan penjajah.
Pohon Angsana raksasa itu oleh masyarakat di sana di anggap mempunyai aura mistik yang kuat karena ada penunggunya (makhluk gaib).
BACA JUGA:
Dusun Citapen Kolot Desa Sukajaya Ciamis Dijaga 2 Harimau Raksasa
Konon, pohon Angsana raksasa tersebut merupakan tempat persembunyian para pejuang saat akan menyergap para penjajah.
Menurut cerita turun temurun, Eyang Sanggabuana dan para prajuritnya menjadi penunggu pohon tersebut.
Eyang Sanggabuana adalah tokoh yang sangat di hormati. Dia orang pertama yang membuka wilayah Citapen Kolot.
“Saat zaman perjuangan dulu, pohon Angsana itu di jadikan lokasi pemantauan pergerakan musuh,” kata Dasta (71) tokoh masyarakat Dusun Citapen Kolot, Rabu (21/1/2026).
Menurut Dasta, para pejuang tersebut bersembunyi di atas pohon tanpa di ketahui penjajah.
“Para penjajah tidak bisa melihat keberadaan para pejuang yang ada di atas pohon. Sehingga Mereka lengah karena dianggap tidak ada tentara pejuang,” kisah Dasta.
Dia menyebut, para penjajah tidak bisa melihat keberadaan pejuang karena pohon Angsana tersebut di jaga Eyang Sanggabuana.
BACA JUGA:
Rumah Warga Karangpawitan Ciamis Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp140 Juta
“Boleh percaya atau tidak soal kejadian itu. Namun warga di sini tahu akan peristiwa itu,” ungkapnya.
Sebelumnya FOKUSJabar mengabarkan, sejak dulu hingga kini Dusun Citapen Kolot Desa Sukajaya Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) tidak pernah di masuki orang jahat atau maling.
Konon, wilayah Dusun Citapen Kolot di jaga dua Harimau berukuran besar.
Menurut cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, kedua Harimau gaib tersebut merupakan Panglima pasukan zaman kerajaan Galuh bernama Singdarapa dan Wangsadarapa.
Singdarapa dan Wangsadarapa mengamankan wilayah itu sejak ratusan tahun lalu.
Keduanya merupakan panglima perang Raja Galuh semasa Eyang Sanggabuana seorang leluhur yang pertama kali membuka kawasan Citapen kolot.
(Husen Maharaja)


