spot_imgspot_img
Kamis 30 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dampak Covid-19, Pertumbuhan Ekonomi di Priangan Timur Melemah

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Pertumbuhan ekonomi di wilayah Priangan Timur terkonfirmasi mengalami penurunan di triwulan ke II 2020, di banding periode triwulan I 2020 lalu.

Penurunan di sebabkan karena meluasnya pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) di Priangan Timur sejak awal April lalu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Heru Saptaji mengatakan, dampak meluasnya Covid-19 di wilayah Priangan Timur sangat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi karena pembatasan sejumlah aktivitas masyarakat di luar rumah.

Termasuk pembatasan jam operasional dan penutupan berbagai tempat-tempat usaha. Akibatnya, pendapatan dan ekspetasi konsumen menurun.

BACA JUGA: Jelang New Normal, Wali Kota Tasikmalaya Pantau Kesiapan Objek Vital

“Survei indeks ekspetasi konsumen di triwulan I 2020 berada di angka 121,75 persen, dan di triwulan ke II 2020 turun menjadi 90,12 persen akibat Covid-19,” ungkap Heru Saptaji, saat bincang bareng wartawan secara virtual, Jumat (05/06/2020).

Di katakan dia, adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat Covid-19 membuat para pengusaha enggan untuk melakukan ekspansi dan berinvestasi di wilayah Priangan Timur.

“Secara umum, investasi menurun. Ini ditandai dengan menurunnya kredit perbankan, terutama sektor kredit modal kerja dan investasi,” sebut dia. 

Menurutnya, dampak Covid-19 juga memukul sektor jasa lainnya. Seperti jasa pariwisata, akomodasi, makan dan minum serta sektor pertanian.

“Terjadi perlambatan pertumbuhan di sektor pariwisata, transportasi, industri pengolahan terutama skala UMKM. Sementara sektor perdagangan bisa tumbuh kembali seiring di berlakukannya new normal di berbagai daerah. Begitu pun sektor pertanian akan tumbuh karena di dukung panen beras, aneka hortikultura dan aneka peternakan yang masih terjaga,” ujar Heru.

Dia juga menjelaskan bahwa sampai triwulan ke II harga tetap terjaga dan bahkan inflasi bulan Mei 2020 tercatat 0,03 persen (mtm) dan 1,65 persen (yoy). Ini lebih rendah jika di bandingkan inflasi periode idul fitri tahun lalu.

“Harga tetap terjaga dari komoditas pangan seperti beras, aneka cabai, bawang putih, telur ayam, serta gula pasir yang mengalami penurunan harga,” tuturnya.

BACA JUGA:

Borneo FC Tempel Ketat Persib Bandung

Lebih lanjut, sebagai wilayah yang di topang oleh sektor pertanian, pasokan pangan di wilayah Priangan Timur dapat terjaga dengan baik. Pendukungnya pola konsumsi masyarakat dan di versifikasi pola konsumsi.

“Kita optimis pertumbuhan ekonomi serta perlambatan pertumbuhan sektor lainnya bisa kembali menggeliat  seiring dengan kebijakan pemerintah yang telah menerapkan new normal di berbagai wilayah,” pungkasnya.

(Seda/Bam’s)

spot_img

Berita Terbaru