spot_imgspot_img
Kamis 29 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tradisi Bakar Batu Papua Warnai Festival 28 Bahasa di Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Tradisi bakar batu khas Papua memeriahkan kawasan pesisir Pangandaran. Kegiatan meriah ini berlangsung di halaman SMK Bakti Karya Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Sejumlah siswa asal Papua Tengah memanaskan batu hingga membara pada Festival 28 Bahasa. Mereka menggunakan batu tersebut untuk memasak makanan secara tradisional.

Baca Juga: “Punten, Hatur Nuhun”, Cerita Selin dari Papua yang Menemukan Keluarga Baru di

Asap mengepul membawa aroma sedap masakan sagu dan ikan bakar. Para siswa menyajikan papeda lengket dan ikan kuah kuning khas Tanah Papua di atas daun pisang.

“Ini tradisi bakar batu, biasanya dilakukan untuk acara kebersamaan. Kami ingin teman-teman di sini tahu bagaimana cara kami di Papua memasak dan makan bersama,” ujar Selin salah satu siswa asal Papua Kamis, (29/10/2026).

Hadirkan Kekayaan Kuliner dan Rumah Adat Nusantara

SMK Bakti Karya Parigi menggelar Festival 28 Bahasa sebagai agenda rutin tahunan. Siswa dari 28 provinsi se-Indonesia mengikuti acara kebudayaan ini.

Setiap kelompok unjuk gigi menampilkan budaya daerahnya masing-masing. Kelompok lain turut menyajikan kekayaan tradisi dari berbagai penjuru nusantara.

Mereka memasak rendang, membuat liwet Sunda, dan mengenakan pakaian adat berbagai daerah.

Para siswa juga membangun rumah adat tradisional dari bahan-bahan alami. Mereka mencari ilalang, bambu, kayu, dan daun rumbia secara mandiri selama sebulan terakhir.

Bahan-bahan ini membentuk struktur Honai, rumah panggung, hingga saung Sunda. Persiapan panjang ini sukses mengubah halaman sekolah menjadi kampung budaya nusantara.

Metode Belajar Keberagaman Melalui Pengalaman Nyata

Para siswa turut menampilkan beragam pertunjukan seni tradisional yang memukau. Mereka membawakan tari Saman, tari Jaipong, hingga tarian khas Papua.

Pihak sekolah menjadikan festival ini sebagai metode belajar keberagaman secara langsung. Para siswa mendapat pengalaman berharga melampaui teori dalam buku pelajaran.

Mereka memasak hidangan, membangun rumah adat, dan tampil secara mandiri. Kegiatan ini mendidik seluruh siswa untuk selalu menghargai perbedaan.

Festival 28 Bahasa mengubah teori keberagaman kelas menjadi pengalaman nyata. Para siswa membuktikan perbedaan bahasa dan budaya sebagai kekuatan untuk hidup berdampingan.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru