spot_imgspot_img
Kamis 29 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

“Punten, Hatur Nuhun”, Cerita Selin dari Papua yang Menemukan Keluarga Baru di Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Selin dan puluhan siswa asal Papua menempuh jarak ribuan kilometer demi menuntut ilmu. Mereka bersekolah di SMK Bakti Karya Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Di ujung selatan Jawa Barat ini, mereka tidak hanya menimba ilmu keahlian di kelas. Para siswa juga belajar merawat kebhinekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Dikukuhkan di Pangandaran, Wanoja Perjuangan Fokus Advokasi Kekerasan terhadap Perempuan

SMK Bakti Karya Parigi menghimpun siswa dari 28 provinsi di Indonesia. Suasana asrama meriah dengan campuran logat Sunda, Papua, Batak, hingga Melayu.

Selin dan rekannya wajib beradaptasi dengan lingkungan baru di tanah Pasundan. Mereka mulai mempelajari bahasa dan adat istiadat warga setempat.

“Awalnya tidak ngerti kalau teman ngomong Sunda. Lama-lama jadi bisa, sedikit-sedikit. Sekarang sudah bisa bilang ‘punten’, ‘hatur nuhun’,” ujar Selin, siswi asal Papua Tengah sambil tertawa Kamis, (29/10/2026).

Program Kelas Profesi dan Splash the Peace

Pihak sekolah merancang program Kelas Profesi demi mengenalkan beragam pilihan karir. Sekolah juga menggelar program Splash the Peace untuk mencetak agen perdamaian muda.

Siswa mempertahankan identitas daerah asal sekaligus menghargai latar belakang teman-temannya.

Kemeriahan Puncak kegiatan hadir melalui Festival 28 Bahasa pada Rabu (28/10/2026). Acara ini berlangsung bertepatan dengan momentum Peringatan Sumpah Pemuda.

Para siswa Papua menampilkan tradisi bakar batu dan menyajikan kuliner khas papeda. Mereka bahkan mengumpulkan ilalang selama sebulan demi membangun rumah adat Honai.

Belajar Kebudayaan Sunda dan Pertunjukan Tradisional

Siswa Papua juga antusias mengenakan kebaya Sunda dan menikmati sajian nasi liwet. Mereka menyaksikan pertunjukan seni pencak silat serta tari jaipong.

“Kami di sini belajar dua arah. Kami kenalkan budaya Papua ke teman-teman, tapi kami juga belajar budaya Sunda dan budaya lain. Jadi tahu, Indonesia itu beragam,” kata Selin.

Kepala SMK Bakti Karya Parigi menjadikan keberagaman sebagai metode utama pembelajaran. Sekolah mendorong para siswa perantau agar bangga terhadap identitas daerah asalnya.

“Anak-anak Papua yang merantau ke Pangandaran ini justru menjadi duta budaya. Mereka belajar Bahasa Sunda, kami belajar Bahasa Papua. Itulah pendidikan multikultural yang sesungguhnya,” ujarnya.

Pengalaman merantau ke Pangandaran memberi kesan mendalam bagi Selin. Selin semakin memahami arti persatuan bangsa di tengah perbedaan.

“Di Papua kami satu budaya, di sini kami banyak budaya. Tapi kami tetap satu, seperti keluarga,” ucapnya.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru