BANDUNG,FOKUSJabar.id: Delapan anggota keluarga tinggal berdesakan di rumah berukuran 4×5 meter di Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.
Kondisi rumah yang kumuh serta keberadaan anak-anak di tengah keluarga yang sejumlah anggotanya disebut mengalami gangguan kejiwaan menjadi perhatian setelah kisah mereka viral di media sosial.
Sekretaris Desa Mekarsari, Yasa, membenarkan keluarga tersebut merupakan warganya. Ia mendesak Dinas Sosial dan Pemerintah Kabupaten Bandung turun tangan untuk memberikan rehabilitasi dan penanganan kesehatan jiwa bagi anggota keluarga yang membutuhkan.
Baca Juga: Remaja di Bandung Kehilangan HandPhone, Ini Masalahnya
“Ini persoalan kemanusiaan. Saya sudah minta yang mentalnya terganggu segera direhabilitasi oleh Dinsos, atau camat berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung. Minimal harus ada yang diselamatkan,” kata Yasa saat dikonfirmasi, Selasa (27/10/2026).
Delapan orang yang tinggal di rumah tersebut terdiri atas Ogi Umaedi dan istrinya, Indah Triyanti, tiga anak mereka, ibu Ogi, Cucu Jubadah, serta dua saudara Ogi, Erna Maryana dan Melinda Ulhusna.
Menurut Yasa, kondisi rumah sangat memprihatinkan. Pakaian menumpuk, kotoran berserakan, dan bau menyengat memenuhi tempat tinggal yang digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Pemerintah desa bersama warga dan kader posyandu telah beberapa kali membersihkan rumah tersebut. Namun, kondisinya kembali kumuh karena persoalan kesehatan jiwa para penghuni belum tertangani.
“Tahun kemarin dibersihkan, tahun sekarang juga sudah dibersihkan. Tapi karena enggak direhabilitasi, kotor lagi,” ujarnya.
Yasa menuturkan, persoalan keluarga itu bermula dari kemerosotan ekonomi orang tua Ogi yang kemudian diperparah perceraian. Ia menyebut ketiga anak Cucu mengalami gangguan kesehatan jiwa setelah menghadapi tekanan keluarga dan minim interaksi sosial.
Meski demikian, kondisi masing-masing anggota keluarga memerlukan pemeriksaan tenaga profesional untuk memastikan diagnosis dan penanganannya.
Kondisi Tersebut Turut Berdampak
Kondisi tersebut turut berdampak pada kehidupan anak-anak Ogi dan Indah. Sebelum Indah melahirkan anak ketiga, pasangan itu memiliki Akbar Rizky, siswa kelas IV sekolah dasar, dan Fahri Syahreza, berusia lima tahun.
Yasa mengkhawatirkan perkembangan Fahri karena anak tersebut disebut lebih banyak diam di rumah dan jarang berinteraksi dengan teman sebaya. Sementara Akbar masih bisa bermain bersama teman-temannya.
“Fahri enggak pernah keluar, enggak bersosial dengan anak sebaya. Kalau Akbar masih bisa main dengan temannya,” kata Yasa.
Indah baru saja melahirkan seorang bayi perempuan melalui operasi sesar di Rumah Sakit Welas Asih. Yasa mengatakan persalinan itu membutuhkan biaya sekitar Rp 8 juta dan pemerintah desa berupaya membantu agar Indah memperoleh penanganan medis.
Data kependudukan Ogi dan Indah baru dipindahkan dari Lampung ke Desa Mekarsari sekitar empat bulan lalu, ketika Indah sedang mengandung dan membutuhkan penanganan medis di kampung halaman suaminya.
Yasa menegaskan, persoalan keluarga tersebut bukan sekadar masalah pemenuhan pangan. Warga sekitar masih membantu kebutuhan sehari-hari, tetapi keluarga itu membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh.
“Ini bukan masalah makan. Soal makan, warga tetap saling membantu meskipun seadanya. Desa pun seperti itu. Ini perlu direhabilitasi,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Bandung Gelar Lomba Toilet Bersih
Ia berharap pemerintah kecamatan, Dinas Sosial, puskesmas, dan Pemerintah Kabupaten Bandung segera berkoordinasi untuk memastikan anggota keluarga memperoleh layanan kesehatan dan pendampingan sosial.
Perlindungan terhadap anak-anak juga dinilai mendesak agar mereka dapat tumbuh di lingkungan yang aman dan layak.
Hingga Selasa (27/10/2026), menurut Yasa, sejumlah anggota keluarga masih tinggal di rumah tersebut, sedangkan Indah menjalani perawatan pascapersalinan di Rumah Sakit Welas Asih.
(Edi K)



