CIAMIS,FOKUSJabar.id: Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Agun Gunandjar Sudarsa, menyoroti praktik politik uang. Yang menurutnya menjadi persoalan serius dalam pelaksanaan Pemilu 2024.
Ia menilai pendidikan pemilih perlu diperkuat untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi Pemilu 2029.
Menurut Agun, pengalaman Pemilu 2024 menjadi bahan evaluasi penting bagi seluruh pihak. Terutama dalam membangun kesadaran masyarakat agar tidak menentukan pilihan hanya berdasarkan faktor materi.
Baca Juga: KPU Ciamis: Pemilih Pemula Meningkat Hampir 50 Persen
“Besarnya peredaran uang dalam kontestasi politik berpotensi mengesampingkan kualitas, pengalaman. Dan rekam jejak calon yang berkompetisi,” ungkap Agung usai Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 di Hotel Tyara Plaza. Kabupaten Ciamis, Senin (26/10/2026).
Agun mencontohkan, sejumlah calon dengan pengalaman politik dan rekam jejak yang baik justru kehilangan kursi. Sebaliknya, kandidat baru mampu memperoleh dukungan hingga terpilih menjadi wakil rakyat.
“Menjelang Pemilu 2029, saya ingin membangun kesadaran bahwa pemegang kedaulatan adalah pemilih. Kedaulatan berada di tangan rakyat dan rakyat menggunakan kedaulatannya melalui hak pilih,” ujar Agun.
Ia menegaskan, pemilih harus mendapatkan edukasi yang memadai agar mampu menilai calon berdasarkan kompetensi, kapasitas, kapabilitas, dan integritasnya.
“Pendidikan pemilih bukan sekadar mengajak masyarakat datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan menentukan pilihan secara rasional dan bertanggung jawab,” tuturnya.
“Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh iming-iming materi maupun praktik politik transaksional,” tambah Agun.
Agun berharap pendidikan pemilih berkelanjutan menjadi salah satu upaya memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia pada Pemilu 2029.
Baca Juga: Suporter PSMS Medan Dilarang Hadir di Stadion Galuh Ciamis
Ia juga mengajak masyarakat menggunakan hak pilih berdasarkan hati nurani. Sekaligus mempertimbangkan rekam jejak dan kemampuan calon dalam menjalankan amanah publik.
“Pilihan politiknya, saya akan mengarahkan masyarakat agar menggunakan hati nurani,” katanya.
Agun menilai kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara pemilu. Tetapi juga oleh kesadaran masyarakat dalam menjalankan hak dan tanggung jawab sebagai pemilih.
(Mia)



