CIAMIS,FOKUSJabar.id: Ketua DPRD Kabupaten Ciamis Nanang Permana menegaskan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi ikatan persaudaraan. Nanang menyampaikan pesan damai ini saat membuka Dialog Kebangsaan FKUB Ciamis pada Kamis (22/10/2026).
Gedung Makin Ciamis menjadi pusat penyelenggaraan forum dialog kebangsaan ini.
Baca Juga: Kirab Resolusi Jihad NU Ciamis 2026, 3.500 Peserta Kenang Perjuangan Ulama dan Santri
Anggota DPR RI Fraksi PAN bersama Anggota DPRD Ciamis Fraksi PAN Asep Rahmat turut mengawal acara tersebut.
Perwakilan berbagai elemen umat beragama dan budayawan Ciamis antusias menyimak arahan Nanang.
Nanang menilai kerukunan beragama menjadi modal dasar dalam memelihara keharmonisan warga Tatar Galuh.
Masyarakat Ciamis terbukti mampu menjaga iklim kondusif dari ancaman bentrok berlatar belakang keyakinan.
“Sejak lama di Ciamis tidak pernah ada peristiwa orang berantem gara-gara beda keyakinan. Walaupun sempat di awal reformasi hampir terkoyak, alhamdulillah bisa diselamatkan,” kata Nanang pada Kamis (22/10/2026).
Kampung Kerukunan Menjadi Bukti Nyata Harmonisasi Warga Ciamis
Nanang memuji peran aktif FKUB Ciamis yang konsisten merawat komunikasi antarumat beragama. Kemudian Ia menunjuk keberadaan rumah ibadah yang berdiri berdampingan di kawasan perkotaan Ciamis. Warga mengenal wilayah toleran ini sebagai Kampung Kerukunan dan Kampung Susuru Panawangan.
Kawasan ini membuktikan bahwa warga Ciamis menjunjung tinggi sikap saling menghormati perbedaan.
“Di Ciamis itu di kota maupun di desa tidak ada orang berantem gara-gara beda keyakinan,” tegas Nanang.
Nanang menuntut generasi muda terus merawat warisan nilai toleransi ini dalam kehidupan sehari-hari.
Nanang Permana Mengingatkan Kebutuhan Hidup Semua Manusia Sama
Politisi PDI Perjuangan ini meminta warga memegang teguh prinsip persatuan bangsa Indonesia. Perbedaan suku dan agama sama sekali tidak boleh memutus ikatan kekeluargaan sesama warga.
“Ini sangat perlu menjadi keyakinan yang permanen, bahwa kita memang tidak perlu berantem gara-gara beda suku, gara-gara beda agama,” pangkas Nanang.
Nanang mengingatkan bahwa setiap manusia menanggung beban pemenuhan kebutuhan hidup yang serupa.
“Tetaplah kita bersatu menghadapi kehidupan. Karena apa pun agamanya, kalau tidak makan sama-sama lapar. Apa pun agamanya, mencari kehidupan itu adalah sebuah tuntutan,” pungkasnya.
(Mia)



