spot_imgspot_img
Kamis 22 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kemenag Majalengka Membeberkan Kendala Pendataan Santri dalam Sistem EMIS

MAJALENGKA,FOKUSJabar.id: Proses pembaruan data santri di Kabupaten Majalengka masih menemui sejumlah kendala teknis. Pengisian data melalui sistem Education Management Information System (EMIS) belum berjalan optimal.

Kasi Pondok Pesantren Kemenag Majalengka Ojun Rojun membeberkan bahwa sistem EMIS menampung sekitar 21.600 santri pesantren.

Baca Juga: Bupati Majalengka: Santri Harus Ikuti Perkembangan Zaman

Namun angka tersebut belum mencerminkan total keseluruhan populasi santri di lapangan. Keterbatasan kemampuan sumber daya manusia (SDM) operator pesantren memicu ketimpangan data ini.

“Data yang kita miliki untuk santri kabupaten itu ada sekitar 21.600. Itu berdasarkan data EMIS, tapi ini kemungkinan masih lebih dari itu,” kata Ojun kepada FOKUSJabar.

Kesenjangan SDM Operator Pesantren Hambat Pembaruan Data

Kemenag mengandalkan aplikasi EMIS guna menghimpun rekam data santri dan ustaz secara berkala.

Kendati demikian, sejumlah pondok pesantren belum disiplin memperbarui laporan statistik lembaga mereka.

“Pondok pesantren itu terkendala oleh SDM. SDM di pondok pesantren itu semuanya kan tidak merata. Ada yang mengisi, ada yang tidak,” ujar Ojun.

Kemenag Majalengka mencatat sebanyak 522 pondok pesantren resmi mengantongi izin operasional.

Sistem EMIS juga menghimpun data santri Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) serta Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ).

Total akumulasi santri lembaga keagamaan di Majalengka kini menembus angka 56 ribu orang.

Petugas memilah data santri berdasarkan kategori mukim dan nonmukim di dalam aplikasi.

Kemenag Dorong Santri Majalengka Menguasai Teknologi Kecerdasan Buatan

Ojun menegaskan bahwa santri masa kini wajib merespons cepat perkembangan teknologi digital.

Santri perlu mengimbangi pendalaman ilmu agama dengan penguasaan literasi teknologi modern.

“Santri itu di zaman sekarang itu dituntut bukan hanya bisa ngaji, tapi juga harus bisa ngejo. Istilah ngejo itu kita harus menyesuaikan perkembangan zaman juga,” papar Ojun.

Kemenag mulai mengenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bagi santri yang berminat.

Materi pelatihan mencakup penguasaan, pemanfaatan, serta pengendalian etika penggunaan teknologi AI.

Ojun memungkas bahwa grafik pendaftaran santri baru di bawah naungan PD Pontren menunjukkan tren kenaikan positif.

(Jilly Ortega)

spot_img

Berita Terbaru