spot_imgspot_img
Senin 12 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Orang Tua Pemain Persib U-18 Ungkap Trauma Usai Bus Diserang di Batang

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Penyerangan aksi brutal oknum suporter terhadap bus tim Elite Pro Academy (EPA) Persib U-18 menyisakan trauma mendalam. Insiden mencekam ini terjadi di Rest Area KM 360, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Orang tua pemain, Mundok, menceritakan kepanikan anaknya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Sang anak merasa nyawanya terancam saat gerombolan pelaku menyerang bus rombongan.

Baca Juga: Igor Tolic Apresiasi Perjuangan Persib Bandung

Mundok menerima kabar buruk ini, Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 21.30 WIB. Ia sempat tidak percaya mengingat laga melawan Persis Solo sudah tuntas sejak Sabtu.

“Saya awalnya sedikit kaget dan enggak percaya. Yang kita pikirkan, pertandingan itu kan hari Sabtu, sedangkan kejadiannya hari Minggu. Kenapa sampai tiba-tiba ada penyerangan dari salah satu suporter? Kenapa harus terjadi di hari Minggu,” ujar Mundok di Pendopo Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Senin (12/10/2026).

Mundok baru percaya usai menerima rekaman video dari sang anak dan pemain lain.

Anaknya mengungkapkan bahwa serangan mendadak itu menyasar para pemain yang tengah tertidur lelap di bus.

Anaknya yang berposisi penjaga gawang hendak menuju toilet, tetapi urung. Saat akan kembali ke dalam bus, beberapa pelaku menjegal tubuhnya.

Sementara pemain di dalam bus panik saat hujan batu menembus kaca kendaraan.

“Anak-anak lagi pada tidur. Sebagian pemain ada yang turun. Anak saya tadinya mau ke toilet, tetapi enggak jadi. Waktu mau masuk, dia dijegal. Sementara yang lain masih tidur, tiba-tiba bus dilempari. Mereka kaget semua, bertanya-tanya ada apa,” ujarnya.

Barang-Barang Pribadi Hilang Digondol Pelaku

Aksi brutal ini juga menyebabkan koper dan perlengkapan tanding milik pemain hilang dari bagasi bus.

Meski merugi, Mundok tidak mempermasalahkan barang yang hilang. Ia mengutamakan keselamatan jiwa anaknya.

“Ketika anak melapor kopernya hilang, yang saya pikirkan cuma satu, yang penting nyawa. Karena nyawa tidak bisa diganti. Kalau barang, mungkin kita masih bisa berikhtiar. Orang tua yang lain juga sama, ada beberapa yang kehilangan barang,” ucapnya.

Trauma Berat dan Minta Laga Tandang Ditunda

Mundok amat mengkhawatirkan kondisi psikologis anaknya yang kerap melamun sendirian. Sang anak bahkan sempat mengutarakan ketakutan akan kematian.

“Sampai dia bilang, ‘Saya hari ini akan mati.’ Itu yang membuat saya kaget. Setelah mereka dilempari, mau lari ke mana? Kalau keluar, mungkin taruhannya nyawa. Kalau diam di dalam, lemparan batu sudah masuk semua,” ungkapnya.

Mundok mendesak manajemen agar menunda jadwal laga tandang Persib U-18 dalam waktu dekat.

“Saya berharap perjalanan tandang tunda dulu. Ini bukan masalah mentalitas pertandingan, tetapi dari sisi psikologis yang saya khawatirkan,” katanya.

Ia risau ingatan kelam itu akan muncul kembali setiap kali bus melintasi jalur yang sama.

“Yang saya khawatirkan, setiap melintas ke area itu, anak akan selalu ingat memori tersebut. Jangankan pertandingan, perjalanan saja bisa mengingatkan mereka pada kejadian itu. Meskipun semalam saya lihat anak-anak tidur dengan nyaman, mungkin pikirannya belum tentu tenang,” jelasnya.

Desak Kepolisian Usut Tuntas Kasus

Mundok meminta pihak kepolisian bertindak tegas menindak para pelaku penyerangan. Ia mendorong Polda Jateng dan Polda Jabar berkoordinasi menuntaskan kasus ini.

“Saya meminta dan memohon kepada Pak Kapolres yang baru beserta jajarannya, Polda Jateng dan Polda Jabar bisa bekerja sama untuk mengusut tuntas masalah ini. Jangan sampai ada kejadian lagi di kemudian hari karena efeknya bisa berdampak ke mana-mana,” katanya.

Ia berharap kepolisian bertindak cepat agar insiden ini tidak memicu konflik lanjutan antarsuporter.

“Harapan saya, sesegera mungkin kasus ini ditangani supaya cepat selesai dan putus di sini,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru