PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Rencana reaktivasi jalur kereta api Banjar-Cijulang di Kabupaten Pangandaran tidak hanya berfokus pada mobilitas penumpang. Jalur rel tua ini memiliki potensi besar untuk mempercepat distribusi hasil pertanian dan perkebunan menuju pasar nasional hingga internasional.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Pangandaran, Ghaniyy Fahmi Basyah, menyebut beberapa komoditas unggulan Pangandaran sangat membutuhkan efisiensi moda transportasi massal. Salah satu komoditas potensial tersebut adalah tanaman rempah kapulaga.
Baca Juga: Terowongan Wilhelmina di Pangandaran, Saksi Sejarah Jalur Banjar-Cijulang yang Bakal Direaktivasi
“Jadi ada beberapa komoditas pertanian, komoditas perkebunan yang berada di Kabupaten Pangandaran yang secara potensial saat ini ada beberapa komoditas yang memang ekspor ke China seperti kapulaga,” ujar Ghaniyy, Sabtu (3/10/2026).
Keberadaan jaringan kereta api ini akan memberikan alternatif angkutan logistik yang lebih murah dan tepat waktu ketimbang mengandalkan jalan raya semata.
Pelajaran Sejarah: Masalah Akses Transportasi Hasil Bumi Pangandaran
Pemanfaatan kereta api sebagai sarana angkut hasil bumi sebenarnya merujuk pada sejarah masa lalu kawasan Priangan tenggara dan Lembah Parigi. Wilayah ini sejak dulu terkenal subur dan menghasilkan produk pertanian melimpah.
Catatan Database Cagar Budaya Pangandaran mengungkapkan bahwa hasil panen padi warga setempat pernah tertahan dan tersimpan di lumbung selama lebih dari enam tahun. Kesulitan akses pengangkutan ke luar daerah saat itu menjadi kendala utama distribusi hasil bumi.
Pemerintah kolonial saat itu kemudian membangun jaringan kereta api Banjar-Cijulang guna menyelesaikan krisis konektivitas logistik tersebut.
Kini, tantangan serupa kembali muncul dengan skenario modern. Pangandaran tumbuh pesat sebagai pusat pariwisata sekaligus penghasil produk agribisnis yang membutuhkan jalur distribusi luas.
Dukungan Responden dan Potensi Pembuka Jalur Logistik
Antusiasme publik terhadap rencana pengaktifan kembali rel Banjar-Cijulang terlihat jelas dari data riset lapangan. Penelitian yang mengumpulkan respons dari 16.295 responden menunjukkan tingginya dukungan masyarakat terhadap proyek tersebut.
Sebanyak 6.752 responden merupakan warga lokal Kabupaten Pangandaran, sementara 9.543 responden lainnya merupakan warga luar daerah dan wisatawan. Kelompok usia produktif 26 hingga 35 tahun mendominasi jumlah responden, disusul oleh kelompok masyarakat berpenghasilan Rp2 juta hingga Rp5 juta per bulan.
Data ini mengonfirmasi bahwa reaktivasi rel tua Banjar-Cijulang bukan sebatas pemenuhan aspek nostalgia sejarah. Proyek ini menjawab kebutuhan riil masyarakat akan konektivitas pariwisata serta penguatan rantai pasok ekonomi kawasan.
(Sajidin)



